Apa Itu Kopi Super Robusta Gesing?

 In Sixth Edition

SUMMARY: Temanggung is yet to be known as a quality coffee-producing region. Just like everywhere else throughout Java, Temanggung has already grown coffee for many years, if not decade, but quality was rarely a priority. Recently, a Coffee and Cacao Research Center in Jember released robusta variety that is even more robust, with stronger root system, and higher resistance to parasites. Locals called them super robusta. We talked with one of the super robusta farmers in Temanggung, Wahyu Dwi Suranto from Tani Coffee about his journey farming and processing super robusta.


Temanggung merupakan bagian dari rangkaian dataran tinggi Dieng yang berada dalam rangkulan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Curah hujan dan iklim yang baik membentuk kandungan mineral tanah yang menjanjikan, memastikan sebagian besar komoditas tanaman produksi pertanian akan tumbuh dengan sangat baik. Sebut saja tembakau yang tumbuh di sebagian besar wilayah tengah dan selatan Temanggung, kemudian kopi berada di wilayah utaranya.

Mas Wahyu

Label varietas ini semakin jaya karena keberhasilannya menjadi juara pertama di ajang kopi tingkat nasional pada tahun 2017. Tak ada lagi yang meragukan kemampuan Temanggung beserta desa-desanya dalam menghasilkan kopi-kopi berkualitas diatas rata-rata.

Kopi robusta Temanggung pada umumnya memiliki hint rasa coklat dan tembakau disertai medium sweetness dan aroma yang khas, menjadikan kopi ini semakin dicari oleh para penggemar kopi Indonesia maupun dunia.

Bertambahnya jumlah permintaan kopi asal daerah ini, maka bertambah pula jumlah petani kopi di Temanggung. Petani dan pekerja kopi tersebar di  desa Pringsut, Kranggan, Kaloran, Kandangan, Jumo, Gemawang, Candiroto, Bejen dan Wonoboyo. Meski robusta menjadi komoditas utama, wilayah-wilayah ini juga menghasilkan kopi Arabica.

Pada kesempatan ini, kami beruntung bisa bertemu dengan seseorang yang berkutat di perkopian Temanggung sejak 2016 dan tidak ragu membagikan kisah singkatnya pada kami.

Tumbuh besar dalam keluarga yang memiliki perkebunan kopi pastinya menjadi alasan terkuat Wahyu Dwi Suranto untuk bergelut dalam lingkup perkopian juga. Wahyu Panjul, sapaan akrab pemuda asal Temanggung ini sempat merintis beberapa usaha kecil terkait kopi bersama beberapa rekan hingga pada akhirnya Wahyu memutuskan untuk menekuni usaha pengelolaan biji kopi dengan lebih serius.

Tercetuslah Tani Coffee pada tahun 2016 sebagai bentuk keseriusan Wahyu pada usahanya kali ini. Walaupun masih skala home industry, dirinya tidak setengah-setengah dalam menentukan visi dan misi Tani Coffee. Berorientasi menjadi pelopor perusahaan kopi terbaik di daerahnya merupakan sebuah tantangan bagi Tani Coffee untuk menghasilkan produk-produk unggulan. Namun Wahyu percaya dengan kemampuan daerahnya, Desa Gesing, yang didukung iklim bersahabat baik untuk menghasilkan tanaman kopi berkualitas serta proses pasca panen yang maksimal.

Memang daerah Temanggung belum tenar dengan kopinya. Banyak petani yang masih menggunakan cara-cara lama untuk memanen dan mengolah kopi. Padahal, sebagai salah satu desa pertama yang ditanami Super Robusta, Desa Gesing memiliki peluang yang besar untuk memajukan desanya melalui kopi ke skala nasional. “Saya yakin banyak inovasi yang masih bisa kita lakukan, bahkan dengan biji kopi robusta. Yang penting kita melakukannya tidak setengah-setengah,” ujar Wahyu.

Untuk Super Robusta, proses pasca panen yang dilakukan adalah natural. Percaya pada kondisi alam dan cuaca Desa Gesing yang terbilang bagus, proses pasca panen yang terlalu muluk tidaklah diperlukan. Kecermatan dalam merawat tanaman kopi sedari bibit hingga berbuah selama usia produktifnya, sudah pasti menghasilkan buah yang berkualitas baik. Apalagi dipastikan bahwa semua buah disortir dengan baik pula, dimana panen petik merah dikondisikan sebagai skala prioritas usaha ini.

Merangkul para petani dan pekerja kopi yang ada diwilayahnya, Wahyu melalui Tani Coffee juga mengusahakan peningkatan pengetahuan pengelolaan kopi bagi para petani dan pekerja tadi. Tidak pernah berpuas diri, Wahyu bahkan menerapkan Analisis SWOT pada Tani Coffee. Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), Threats (ancaman) untuk mengukur kapabilitas rintisan usahanya.

Kerja keras Wahyu dan timnya terbayar kala Tani Coffee menyatakan mampu menjual coffee greenbean dan roasted coffee bean ke luar daerah. Untuk menjangkau semua kalangan pasar penikmati kopi, Wahyu juga menjual Arabika (dry, natural, honey, dan fully washed) selain Robusta.

***

Sedangkan bagi Wahyu sendiri, tidak hanya perkebunan kopi yang menjadi tempatnya berjibaku. Bagai sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlalui; keberadaannya di Jogja yang merupakan salah satu kota dengan perputaran kopi yang terbilang cepat membuat dirinya mampu mengidentifikasi secara langsung pangsa pasar bagi produk-produk Tani Coffee. Mengetahui kebutuhan pasar dan mengetahui kemungkinan Tani Coffee untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, menjadi kolaborasi yang sangat menguntungkan dalam diri seorang Wahyu.

Terjun langsung sebagai penyeduh kopi di beberapa coffeeshop di Jogja, Wahyu mempelajari lebih dalam tentang seduh dan kopi itu sendiri, beserta selera para penikmat kopi. Berdasarkan pengetahuannya tersebut, Wahyu mampu memperkirakan market plan produk-produk Tani Coffee di Jogja.

Dengan cara Wahyu lewat wadah Tani Coffee bersama warga sekitar ini, cita-cita menjadi salah satu produsen kopi di ranah Asia Tenggara pun pastinya bisa tercapai dan kopi Gesing akan mengambil bagian dalam kopi dunia.

 

Oleh Petto / Foto oleh Wahyu

Ngopi di Rutan: Sebuah Masa Depan Bagi Warga Binaan
Profil: Otten Coffee


Leave a Comment

0