Loading Post...

You have reached the bottom. Let’s shuffle the article!

Post Not Found

Demetria, ProfilePrint, dan AI Kopi yang (Masih) Sia-Sia

 In Coffee Conversations

Seperti yang sudah dan sedang terjadi di industri lainnya, beberapa orang

juga ingin menggunakan AI untuk mengguncang status quo di industri

kopi.

 

Pada tahun 2018, Demetria diperkenalkan kepada publik. Perusahaan rintisan Israel-Kolombia itu bercita-cita mengimplementasikan AI (artificial intelligence) di industri kopi. Mereka percaya jika teknologi sensorial digital fingerprint dan komputasi awan dapat mengoptimasi kegiatan quality control di rantai pasok kopi. Felipe Ayerbe, CEO Demetria, mengeklaim sistemnya mampu menganalisis profil dan kualitas biji kopi secara akurat berdasarkan roda rasa SCAA. 3 tahun kemudian berlalu, mereka berhasil meyakinkan investor dan mengumpulkan $3,000,000 lewat  pendanaan seed.

Demetria apps, doc. demetria

Demetria tidak sendirian. ProfilePrint, perusahaan asal Singapura, pun bertujuan sama. Menariknya, mereka enggan berhenti di biji kopi. Mereka berharap teknologi AI-nya bisa membantu pelaku industri pangan memprediksi profil dan kualitas makanan lainnya juga. Salah satu contohnya, beras. Melihat laju pendanaan, ProfilePrint tampak berlari lebih cepat daripada Demetria, meski jumlah dana terkumpul sebenarnya masih lebih rendah. Didukung Cargill dan Sinar Mas, total  dana $1,400,000 diterima perusahaan setelah menggelar pendanaan seed di tahun 2021, dan seri A di tahun berikutnya.

Hanya satu, kabar-kabar tentang Demetria dan ProfilePrint masih berputaran manis di pendanaan saja, serta obsesi pebisnis terhadap jargon-jargon kosong teknologi. Berganti ke tahun 2023, belum terlihat tanda-tanda signifikan bahwa mereka berhasil mendekati mimpinya: mengoptimasi rantai pasok kopi menggunakan AI.

 

Rantai pasok kopi global hari ini

Agrikultur—baik kopi atau tanaman lainnya—adalah industri dengan tingkat risiko kegagalan cukup tinggi. Apa yang ditanam tidak selalu menjadi apa yang dituai. Kalau beruntung, kebun kopi akan menghasilkan komoditas sesuai ekspektasi. Tapi lain berita saat hama, penyakit, atau atau bencana alam menghantam, yang bisa dipanen cuma keluhan dan sesak di hati. Sementara di waktu bersamaan, populasi manusia terus meningkat dan tren konsumsi kopi global mengikuti. Petani akhirnya menerima tekanan agar sanggup mengejar permintaan pasar, lalu bertaruh modal kepada tidak tentunya hasil panen.

Di industri kopi, tantangan petani berlanjut ke soal kualitas biji-biji terkirim. Tentu, menjaga kualitas adalah tantangan yang sama untuk industri apapun. Istimewanya, penilaian kualitas biji kopi beserta profilnya cukup bergantung kepada cupping— metode sampling manual, seringkali dicap mahal, memakan banyak waktu, rentan subjektif, dan lumayan eksklusif, sebab idealnya dilakukan oleh coffee taster bersertifikat. Disadari atau belum, karena cupping biasa terjadi di lokasi tujuan pengiriman atau sebagai ujicoba sampel produk saja, roaster, trader, kedai, juga pengimpor kerap memiliki informasi minim terkait kualitas biji kopi terpesan. Pelacakan dan quality control merupakan isu signifikan di rantai pasok kopi.

Menurut pengamatan Demetria, terbatasnya akses kegiatan cupping turut melahirkan masalah lain bagi petani. Aktivitas pertanian sungguh sensitif terhadap faktor-faktor eksternal, sehingga mudah mengganggu kualitas ceri serta memicu tren pasar menjadi fluktuatif. Ketidakmampuan petani menjamin kualitas biji kopi konsisten di level tertentu memaksa mereka menerima harga dasar. Hanya di proses-proses selanjutnya, ketika biji-biji kopi melewati tahapan rantai pasok yang lebih kompleks, ketika mempertemukan pedagang dengan pengekspor, ketika cupping dilakukan, kualitas baru bisa ditentukan. Akibatnya, rata-rata petani cuma memetik 2,5% keuntungan dari secangkir kopi terjual.

 

Gudang penyimpanan kopi, sebagai bagian dari rantai pasok, doc. demetria

Implementasi AI di rantai pasok kopi

Baik Demetria dan ProfilePrint sama-sama mengadopsi teknologi berusia lebih dari 40 tahun. Keduanya memanfaatkan sensor NIR (near-infrared) untuk membaca spektral—hasil interaksi energi elektromagnetik dengan objek tertentu—sebagai sidik jari biji kopi. Metode ini dipilih karena spektrum warna dan panjang gelombang cahaya berbeda akan memberikan reaksi berbeda juga ketika berinteraksi dengan senyawa organik di dalam biji kopi.

Reaksi spektral kemudian dianalisis, dan nantinya mengilustrasikan formulasi kimia dari biji kopi. Data-data terekam lantas dikelola oleh komputasi awan (cloud), dicocokkan berdasarkan cupping database yang sebelumnya dilakukan Q grader, dan diterjemahkan ke bahasa universal—roda rasa SCAA. Informasi lalu didistribusikan, serta dapat diakses secara transparan oleh setiap pelaku di rantai pasok, mulai dari petani, hingga kedai pemesan biji kopi.

Kepada Forbes, Ayerbe bercerita kalau tantangan terberat mengembangkan Demetria adalah ketika bertemu parameter-parameter subjektif seperti body atau aftertaste, dan mencari metode identifikasinya. Tanpa membagikan detail algoritmanya, ia mengatakan timnya perlu memindai dan menghimpun ribuan data, mempertimbangkan perbedaan sekecil apapun di antara setiap jenis biji kopi, agar teknologi AI-nya mampu berjalan sesuai standar roda rasa SCAA.

Meski berstatus perusahaan muda, Demetria berhasil mencuri perhatian beberapa pelaku di industri kopi. Pada tahun 2021, mereka merilis kolaborasinya dengan Carcafe—unit bisnis pangan Kolombia, berfokus di perdagangan dan distribusi kopi. Di sepanjang waktu kurang lebih 4 bulan, mereka mengorganisasikan ratusan sampel data, dan melatih AI membaca hasil analisis cupping. Proses tersebut lantas melahirkan sistem pencocokan profil kopi sesuai kebutuhan Carcafe dan pelanggannya.

Selain Carcafe, pada tahun yang sama, Demetria mulai membantu tim operasional Nespresso mengukur dan mengklasifisikan batang-batang cangkok dari bibit kopi. Kerjasama itu terjadi setelah Nespresso mengujicoba aplikasi di proyek pilot terlebih dahulu—apakah teknologi AI Demetria dapat mengidentifikasi sekitar 240.000 bibit kopi di rentang waktu 3 bulan setelah dipasok ke beberapa jaringan petani.

Terbaru tentang AI di industri kopi, ProfilePrint baru saja membangun kesepakatan bersama Anacafé, asosiasi nasional pegiat kopi di Guatemala. Kabarnya, mereka ingin memberdayakan 125.000 petani kopi Guatemala, agar memanfaatkan AI untuk menilai dan mengenali kopi tanpa harus mendapat pelatihan cupping sebelumnya.

Demetria berhasil mencuri perhatian beberapa pelaku di industri kopi. Pada tahun 2021, mereka merilis kolaborasinya dengan Carcafe—unit bisnis pangan Kolombia, berfokus di perdagangan dan distribusi kopi.

 Baca juga. Antara value chain dan industri 4.0

Apakah AI kopi adalah solusi yang sia-sia?

Apabila dikembangkan, serta diimplementasikan baik, teknologi AI Demetria dan ProfilePrint menjawab beberapa kelemahan cupping di rantai pasok kopi. Baik petani, selaku produsen kopi, dan aktor-aktor lain di sepanjang rantai pasok, dapat memonitor kualitas biji-biji kopi terpesan di setiap fase, tanpa harus menghabiskan banyak waktu dan biaya besar. Para petani pun nantinya memiliki daya tawar lebih cermat berkat lebih terbukanya akses informasi tentang kualitas biji kopi—tidak harus menunggu hasil cupping di lokasi tujuan pengiriman. Utopis sekali, bukan? Ide-ide merombak kegiatan manual di sebuah industri dengan teknologi memang menarik. Automasi, efisiensi biaya dan waktu, akurasi dan transparansi data, serta hasil-hasil objektif sering menjadi nilai lebih. Betul, teknologi hari ini banyak berangkat dari perhitungan matematika dan hasil organisasi big data. Sungguh objektif dan data-driven sekali. Namun penting diingat, algoritma, big data, machine learning, dan AI berhenti objektif ketika manusia terlibat di penciptaannya. Yang tentu saja 100% terjadi.

Demetria dan ProfilePrint ingin memitigasi isu subjektivitas di kegiatan cupping, sementara organisasi datanya masih bergantung pada kegiatan cupping oleh manusia juga. Mengacu ke permasalahan eksklusivitas dan akses informasi bagi petani, keduanya lupa bahwa mengadopsi AI ke keseharian petani merupakan jalan panjang berliku, yang lagi-lagi akan memakan banyak waktu dan biaya. Petani juga cenderung memandang teknologi sebagai sesuatu yang berlaku hanya di dunia digital.

Staff demetria melakukan edukasi kepada petani dan prosesor di beberapa negara, doc.demetria

Manfaat AI tidak dapat disangkal. Pada kondisi ideal, AI mampu mengakomodasi kegiatan-kegiatan repetitif dan membantu analisis. Sayangnya, mengaplikasikan AI di agrikultur, termasuk kopi, tidak semudah mengacungkan jari tengah. Berbeda dengan truk, teknologi AI tidak dapat dinyalakan dan serta-merta digunakan di rantai pasok kopi. Kecerdasan buatan pada dasarnya adalah simulasi pemikiran, dan simulasi yang baik selalu membutuhkan waktu adaptasi yang panjang, biaya besar, infrakstruktur kompleks, dan organisasi data komprehensif.

Selain mengembangkan model dan melatih AI-nya, Demetria dan ProfilePrint perlu memikirkan beberapa hal sama pentingnya: bagaimana memperkenalkan AI-nya kepada petani, trader, dan pengekspor; bagaimana meleburkan AI ke rantai pasok kopi hari ini tanpa menciderai proses yang sudah berjalan; dan bagaimana melakukan kedua hal itu dengan biaya dan energi yang tidak lebih besar daripada nilai kegiatan cupping hari ini. Jika tidak, keduanya hanya akan menjadi jargon kosong teknologi lainnya. Faktanya, belum pernah ada informasi dan penelitian tentang hasil penggunaan Demetria oleh Carcafe dan Nespresso—apakah teknologi AI-nya benar-benar membantu bisnis mengoptimasi proses quality control dan identifikasi kopi. Baik itu dari perspektif biaya, waktu, atau akurasi.

Berhasil mengembangkan teknologi AI adalah satu hal, mengintegrasikannya di antara sistem yang sudah dipercaya begitu lama adalah masalah kian pelik. Apalagi di industri yang selama ini berdiri kuat pada asas kepercayaan dan hubungan baik antar manusia. Membangun rasa percaya kepada manusia saja susah, lebih-lebih kepada robot.

Demetria dan ProfilePrint perlu memikirkan beberapa hal sama pentingnya: bagaimana memperkenalkan AI-nya kepada petani, trader, dan pengekspor; bagaimana meleburkan AI ke rantai pasok kopi hari ini tanpa menciderai proses yang sudah berjalan; dan bagaimana melakukan kedua hal itu dengan biaya dan energi yang tidak lebih besar daripada nilai kegiatan cupping hari ini. Jika tidak, keduanya hanya akan menjadi jargon kosong teknologi lainnya.

Baca juga, Digital currency: Bye – bye pengepul kopi.                                                                                                                                                           4

Aktivasi Kedai Kopi Sebagai Ruang Publik Melalui Kultur Zine
Strong coffee atau Kopi yang kuat: Apa sih maksudnya?

Share and Enjoy !

0Shares


Leave a Comment

Start typing and press Enter to search