Ibrik pun Bisa untuk Menyangrai

 In #5 Roaster Rumahan, Home Roasting

Read in English

Bagai virus yang persebarannya sangat cepat, begitu juga kopi yang kini telah menjadi gaya hidup. Indonesia memang telah mengenal kopi sejak zaman nenek moyang. Namun tak lagi sederhana, kopi telah menjadi minuman yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, walaupun dengan harga yang meningkat seiring dengan perlakuan terhadap kopi tersebut, dari bibit hingga terseduh apik.

Brebes, sebuah kabupaten yang terletak di Jawa Tengah pun tak luput dari pergerakan kopi ini. Memiliki wilayah terluas kedua se-Jawa Tengah, bawang merah adalah komoditas utamanya, namun kebun kopi juga pelan-pelan bertambah luas. Dengan semakin banyaknya penggiat kopi dari hulu ke hilir yang bersinergi, semakin banyak pula pemikiran yang dapat diselaraskan demi mengembangkan industri kopi kota Brebes. Malah, dalam kisah di bawah ini, perkembangan home roastery-lah yang berperan sebagai motor penggeraknya

Salah satu perintis yang membangun perkopian Brebes adalah sebuah kedai bernama Kelirumologi yang berdiri akhir tahun 2015. Sebuah bangunan sederhana di Jalan Pemuda, bersebelahan dengan SPBU, kedai ini dimiliki oleh seorang pemuda yang memiliki jiwa ekplorasi yang mumpuni.

Kelirumologi merupakan ide yang digagas oleh Ki Jaya Suprana, yaitu sebuah pemahaman tentang kekeliruan yang sudah terlanjur dianggap benar oleh masyarakat. Jadi mengapa Cecep sang pemilik memilih nama ini sebagai nama kedainya?

Aku nemuin di kopi banyak kelirumologi, apalagi kopi ditengah masyarakat indonesia, Soal rasa, cara seduh, cara sangrai, mitos, dan lain-lainnya banyak kekeliruan. Termasuk aku sendiri mengenal kopi dengan kekeliruan. Apalagi di Indonesia, pahit ya konotasinya selalu negatif hingga harus ditutup gula atau pemanis lainnya. Padahal kopi ada bitter namun ada jg body,Dan di kopi sebaiknya tidak ada bitter tapi harus ada body.

Celetuk panjang Cecep tentang pemilihan nama kedainya ini tersimpulkan bahwa toh kita semua belajar dari kekeliruan dan dari hal tersebut kita paham tentang mana yang lebih baik untuk dilakukan. Percakapan kami lanjutkan tentang kabar bahwa Cecep juga merupakan seorang home roaster, bergulirlah kisah seru yang kami nantikan.

“Di kedai Kelirumologi saya cuma menyeduh dan mengulik brewing, gak kepikiran belajar sangrai. Nah, suatu ketika temen punya green bean dari Aceh bekas sample studinya tentang teknologi pangan. Nggak banyak, cuma 200gram. Akhirnya saya coba sangrai iseng-iseng pakai ibrik, alat seduh turkish kahve.

“Ternyata hasilnya enak, ketika dilakukan dengan cara tertentu nyangrainya. Akhirnya sering nyangrai buat konsumsi pribadi.

“Pernah coba bikin alat sangrai manual ke tukang las, pake milk jug 800 mililiter, yang stainless steel. Nah, dari situ mulai sering nyangrai. Jadi ngerti karakter-karakter bean, densitas, kadar air, proses pasca panen.

“Sebenernya belajar dari manual buat kita lebih peka membaca karakter bean mau diapain nantinya. Alhamdulillah akhirnya setelah terkumpul uang, sekarang bisa pake mesin W600i. Semenjak pake mesin, kopi saya komersilkan. Awalnya, ada keresahan pribadi ‘nyari kopi di Brebes itu gak ada,’ kudu online.

Sekarang setelah saya pake mesin, sebenernya sudah meringankan tantangan manajemen stok para kedai kopi yang lain, nyari kopi jadi gampang walaupun masih pake mesin yg murah.”

Berkembang dari percakapan kali ini, kami jadi mengerti bahwa sebenarnya pemilihan ibrik tersebut tidak serta merta hanya iseng-iseng belaka, tetapi tetap ada pertimbangan tertentu dari Cecep. Karena saat kami tanyakan mengapa tidak menggunakan wajan atau panci seperti yang umumnya digunakan untuk sangrai, Cecep memaparkan bahwa bentuk ibrik sangat memungkinkan untuk menyangrai tanpa mengaduk, hanya tinggal menggenggam handle-nya lalu menggerakkannya diatas api tanpa takut menumpahkan greenbean-nya keluar. Selain itu, bentuk tersebut juga mampu menyimpan panas dengan cukup apik sehingga bisa mengontrol suhu secara tidak langsung.

Ibrik yang digunakan Cecep belajar menyangrai

Alat manual roasting hasil modifikasi milk jug 800 mililiter, biaya las hanya Rp.75.000

W600i milik Cecep sekarang

Untuk biji kopi, Cecep menyangrai biji kopi lokal Brebes sendiri sampai yang dari luar negeri juga. “Demi mengenal dan tahu tentang berbagai karakter biji kopi, namanya juga masih belajar,” ujar Cecep.

Pemilihan biji kopi lokal dilakukan sekaligus juga mendampingi petani, berbagi ilmu agar Brebes memiliki kopi yang lebih baik dan mampu bersaing, setidaknya dalam pasar kopi Indonesia.

Secara perlahan, Cecep dan teman-temannya mendekati petani lokal agar tidak terlalu memaksa dan tentunya dengan seijin Kepala Dusun setempat sebagai penyambung lidah mereka, berimbas baik karena para petani mau menerima. Bukan saja menanam kopi cherry merah, namun ada yang menanam varietas yellow caturra. Dan tak berhenti disitu, planning para penggiat kopi Brebes ini sedang menggalakkan pengembangan Robusta Mokka mereka. Sharing ilmu ini bukan tentang penanaman saja, tetapi juga merambah ke proses paska panen, sehingga peningkatan kualitas pun terjadi dari hulu ke hilir.

Kopi berbuah merah / red cherry

Yellow Caturra

Penjemuran, salah satu fase dalam proses pasca panen

Geliat kopi di Brebes pun mulai tampak. Jika di tahun 2015 hanya ada 1 kedai kopi, kini sudah ada 7 kedai kopi yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi kafein para penikmat kopi di Brebes. Manual coffee roaster pun bertambah jumlahnya, begitu pula coffee enthusiast.

Selain planning bersama tadi, pemuda bernama lengkap Cecep Dewantara ini masih punya impian lain. Meski tetap menyukai sangrai manual yang menurutnya lebih dekat secara personal dengan para biji kopi tersebut, Cecep juga berharap bisa me-roasting dengan mesin besutan Probat.

Well, dengan semangat eksplorasi dan dukungan dari teman-teman penggiat kopi pasti semua bisa terwujud.

Oleh Petto, penikmat kopi dari Jogja.

(2) Apakah kamu adalah seorang roaster rumahan?
(1) Apakah kamu adalah seorang roaster rumahan?


Leave a Comment

0