Imas Suryati: Dari Mimpi Lalu ke Kopi

 In Third Edition

MUSTIKA YULIANDRI

SUMMARY: Imas Suryati is a roaster from Bandung who is currently working for coffee conversation and school, Klasik Beans. Early on, she had a dream to travel the world, but didn’t expect that she will realize this through her career in coffee. She began working for Klasik Beans as an English teacher to their staff, then learned how to do quality control and eventually, roasting. She fell in love with the coffee world quickly afterwards, especially after seeing improvements in the farmers’ lives. The coffee world offers a lot of opportunities to anyone who is dedicated to the field and Imas always encourages everyone, especially females, to take on challenges and new roles in the coffee world.

Mimpi memang memungkinkan seseorang melakukan hal-hal yang luar biasa. Dan mimpi ini pula yang membawa Imas Suryati terjun ke dunia kopi.

Nama Imas Suryati mungkin belum terlalu familiar di telinga penikmat kopi di Indonesia. Tapi di ranah industri kopi spesialti, namanya pelan terdengar merdu. Sebagai salah seorang perempuan yang mengabdi pada kopi di hulu, awalnya Imas hanya ingin memupuk mimpinya berkeliling dunia. Siapa sangka, perempuan asal Bandung ini menemukan mimpinya ketika berkarir di dunia kopi, tepatnya di sebuah desa yang sederhana di Garut, Jawa Barat.

20180318_143206

Tak lama setelah bertemu dengan Bapak Eko Purnomowidi, pendiri sekolah kopi dan konservasi Klasik Beans, yang sudah berkeliling dunia karena kopi, Imas pun tergerak untuk mengikuti jejaknya untuk bergabung di Klasik Beans pada 2014.

Klasik Beans adalah sebuah koperasi yang memiliki misi menjaga keseimbangan alam dengan konservasi, sembari membantu petani dalam proses penanaman kopi, agar menghasilkan kopi terbaik yang bisa dijual dengan harga baik pula. Imas sudah mengenal Klasik Beans dan kiprah kopersi ini sejak 2010, tapi baru memutuskan bergabung pada tahun 2014. Itupun awalnya hanya sebagai pengajar Bahasa Inggris untuk pegawai dan anak-anak petani.

20181106_174302

Seiring berjalannya waktu, Imas mulai belajar quality control dan fokus pada proses sangrai dalam skala produksi. Bersama tim Klasik Beans, Imas fokus meningkatkan kualitas hasil kopi para petani dengan memberi penyuluhan perihal tanaman hingga panennya. “Mengajari petani perihal menanam dan panen kopi lumayan besar tantangannya. Karena petani memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan dan itu tidak semuanya baik untuk kopi. Jadi pelan-pelan kami mengubah kebiasaan itu dan beruntung sekarang semuanya membaik dan hasil kopi juga lebih baik kualitasnya,” papar Imas.

20160225_171442

Perlahan-lahan, Imas dan tim Klasik Beans mulai merasakan perbedaan signifikan mengenai produksi kopi yang dihasilkan petani. Kualitas kopi, khususnya di daerah Gunung Puntang, meningkat dan otomatis, permintaan kopi dari daerah tersebut pun juga meningkat. Bagi Imas ini adalah salah satu pencapaian Klasik Beans yang mengharukan: ketika harga jual kopi naik sehingga petani bisa hidup lebih sejahtera.

Mengajari petani perihal menanam dan panen kopi lumayan besar tantangannya. Karena petani memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan dan itu tidak semuanya baik untuk kopi. Jadi pelan-pelan kami mengubah kebiasaan itu dan beruntung sekarang semuanya membaik dan hasil kopi juga lebih baik kualitasnya,

Mimpi keliling dunia pun seketika terwujud. Tak disangka, Imas Suryati mampu mewujudkan mimpinya bertualang ke belahan bumi lain saat dia mendampingi para petani menerima penghargaan di Swiss pada 2016. Tak hanya itu, pada 2017 Imas kembali lagi berkesempatan untuk menjelajah ke Perancis saat dia menghadiri pameran kopi. Adalah sebuah pencapaian terbesar untuk seorang perempuan yang menyimpan baik-baik mimpinya, lalu segalanya terwujud dengan tepat waktu.

Selain memiliki mimpi untuk dirinya sendiri, Imas pun memiliki mimpi besar bersama timnya di Klasik Beans. “Selain konservasi dan mengajak orang berkonservasi, kami punya mimpi agar apa yang kami kerjakan dapat dikerjakan pula oleh pihak lain, baik secara pribadi, koperasi atau instansi. Selain bergerak di edukasi petani kopi, kami pun sedang berjalan di bidang pariwisata tentang
edukopi dan konservasi. Bagaimana melalui pariwisata, orang bisa belajar kopi dan konservasi. Tujuannya adalah selalu mengajak dan saling mengingatkan bahwa alam kita perlu dijaga dan dilestarikan, tidak hanya oleh petani, tapi juga oleh seluruh masyarakat yang menikmati hasil tani.”

dsc_0348

Lalu bagaimana dengan mimpi perempuan di dunia kopi? Imas mengatakan bahwa di setiap rangkaian perjalanan kopi, pasti melibatkan perempuan. Misalnya, kejelian dan kesabaran perempuan adalah skill yang menguntungkan untuk menyortir jutaan biji kopi.

Meski isu gender masih ada di bidang ini, tapi hal tersebut bukanlah hal yang terlalu mengganggu. Dia sendiri mengaku beruntung karena kerap terlibat memimpin di berbagai kesempatan dan diberlakukan dengan sangat baik. “Tidak ada diskriminasi dan perbedaan. Malah saya dianggap bisa memimpin berbagai kesempatan. Di industri ini perempuan sama perannya seperti laki-laki. Hidup berimbang dan bekerja sama demi kemajuan kopi Indonesia.”

Di ranah sangrai sendiri, Imas mengaku belum banyak perempuan yang terlibat.

Menurutnya, ini bukan karena perempuan tidak mampu atau laki-laki lebih hebat, tapi karena banyak perempuan yang kurang tertarik atau kurang percaya diri dalam menekuni bidang ini. Padahal peran perempuan di dunia sangrai sangat diperlukan karena perempuan memiliki sense istimewa dalam mengenali kopi. Dunia kopi akan menjadi amat menarik ketika banyak penyangrai perempuan mulai terjun.

Banyak perusahaan dan perkebunan kopi kini sudah dipimpin oleh perempuan. Dan ini membuktikan bahwa perempuan dan kopi adalah dua hal yang ketika menjadi harmoni, mampu membangun perkopian Indonesia menjadi lebih baik. Meski masih banyak kacamata awam yang menganggap bahwa kopi lekat dengan maskulinitas, namun kembali lagi, tak ada gender dalam kopi. Maka marilah kita bermimpi untuk kopi karena dunia ini hanya bisa bangun ketika ia melibatkan banyak hati.

MUSTIKA YULIANDRI senang menulis kopi dan meneguk kata. Hingga detik ini masih berbahagia hidup di antara spasi dan kata-kata.

A Traditional Method for Making Coffee
Pasca Gempa, Kelompok Perempuan Bangkit dengan Kopi


0