Gayo adalah Putri

 In Third Edition

MICHELLE ANINDYA

Read in English

Kabarnya, jauh sebelum Belanda datang ke Nusantara, Gayo padat dengan pohon kopi. Mungkin orang Arab membawa biji kopi bersama mereka untuk memenuhi kebutuhan kafeinnya ketika bermigrasi ke Aceh. Atau mungkin orang India, yang sudah menanam kopi, membuka lahan kopi kecil-kecilan. Sebagai kota pelabuhan semenjak 2 SM, Aceh menjadi tempat pertukaran budaya, komoditas, dan informasi antara belahan dunia Timur dan Barat.

Belum ada bukti yang kuat perihal sejarah kopi di Aceh. Namun bagi sebagian besar masyarakat Gayo, mereka menganggap biji kopi bagaikan seorang Putri.

Rakyat Gayo telah menanam biji kopi selama hampir 400 tahun dan kopi adalah komoditas berharga yang menopang kehidupan mereka. Namun tidak seperti banyak petani lainnya yang memiliki berbagai variasi komoditas untuk dijual sepanjang tahun, Gayo hanya memiliki kopi. Sebagian besar rakyat Gayo adalah petani, pengolah, dan penjual kopi. Jika penjualan dan nilai kopi menurun, maka kehidupan mereka pun akan terpengaruhi. Kopi adalah benteng kehidupan mereka sehingga mereka menyebutnya Siti Kewe (Siti adalah nama umum untuk perempuan dan Kewe, berasal dari kata kahwa, yang berarti kopi). Bagi mereka, kopi adalah Putri, anak yang berharga yang memberi mereka masa depan, kemakmuran, dan umur panjang.

img_4027

Win Hasnawi, seorang petani Gayo, roaster, dan brewer yang telah aktif mempromosikan biji Gayo di Jakarta sejak tahun 2006, menjelaskan,

Yang bisa memproduksi anak adalah ibu. Yang bisa memberikan harapan adalah ibu yg punya anak banyak. Dan harapan kita untuk kopi adalah seperti perempuan yang menghasilkan buah yang banyak, yang akan meningkatkan perekonomian orang Gayo. Karena itulah ia diperumpamakan seperti Putri, yang memberikan harapan di kemudian hari bagi orang tua. Itulah filosofinya.

Di Gayo, tanaman kopi berjejer begitu rapat, dan sebagai ucapan terima kasih, setiap proses pertanian dipenuhi makna seremonial. Orang Gayo akan hati-hati ketika memetik buah kopi, “secara seragam dari kiri ke kanan,” menurut Win, seolah-olah kopi memiliki perasaan.

“Kopi adalah buah. Namun karena dia kecil, seringkali susah terlihat tingkat kematangannya, sehinga ibu-ibu mesti memetiknya dengan sangat hati-hati. Bahkan, di zaman kakek nenek saya, dia bercerita bahwa ketika memetik kopi, mereka mesti meminta ijin, seperti meminta keperawanan seseorang. Bahkan memutarnya pun seragam ke satu arah, yaitu ke kanan. Mereka melakukannya dengan sangat hati hati.”

img_3836

Kopi, terutama Arabika, memang membutuhkan banyak perhatian. Jadi, melihat kopi sebagai Putri yang lembut, di satu sisi, memang masuk akal. Ipak Mahaga, petani Gayo lainnya yang sekarang membuka sebuah kedai kopi kecil di Pasar Santa, Jakarta, mengenang bagaimana orang tuanya tidak akan membiarkan sebutir buah pun jatuh sia-sia karena ia adalah “sumber kehidupan” mereka.

Ketika ditanya awal mula dari istilah Putri ini, Win menjawab, “Itu pertanyaan yang sama yang kakek saya ajukan kepada kakeknya. Kami telah menanam kopi sejak 1623 dan kami dapat hidup hingga saat ini karena kopi.”

Menanam kopi di Gayo memang selalu dipenuhi dengan berbagai macam ritual dan doa, sehingga bertani kopi menjadi aktivitas spiritual mereka. Dari penanaman hingga panen, serangkaian doa dinyanyikan untuk menemani pekerjaan mereka. Apa yang orang lain anggap adalah pekerjaan kasar, bagi orang Gayo, adalah sebuah ibadah.

Berikut adalah doa mereka ketika pertama kali menanam benih di tanah:

Bismillah
Siti Kewe kunikahen ko orom kuyu
Wih kin walimu
Tanoh kin saksimu
Lo ken saksi kalammu

Bismillah
Siti Kawa kunikahkan engkau dengan angin
Air sebagai Walimu
Tanah sebagai Saksimu
Matahari sebagai Saksi Kalammu

Ipak Mahaga menjelaskan apa arti puisi ini,

“Buah kopi adalah hasil penyerbukan, dan faktor utama yang memicu penyerbukan adalah angin. Itulah sebabnya, dalam mantra atau doa, dikatakan ‘menikahi angin’ dengan kopi sebagai perempuan. “

Di sisi lain, ilmuwan dapat berargumen bahwa fakta ini benar adanya tanpa dihiasi puisi dan doa. Namun bagi orang Gayo, ritual-ritual ini seperti lagu yang melekat di ingatan dengan begitu jelas – mereka mudah diingat, dan dengan demikian, mudah dilakukan dan diulang. Tanpa pengetahuan ilmiah pun, menjaga kualitas kopi tetap dapat dilaksanakan berkat puisi dan ritual ini.

Menurut Win, Gayo kaya dengan kopi karena kesabaran dan perhatian keibuan yang melimpah selama bertahun-tahun. “Butuh 7 tahun sampai buah pertama mekar. Menunggu tujuh tahun bukanlah bisnis yang baik.” Ditambah lagi pekerjaan sehari-hari, seperti menyiangi dan memelihara kebun — jenis pekerjaan yang jika dilakukan dengan kurang tepat, buah kopi tidak akan bertumbuh.

Nah, karena itu tidak mengherankan jika para ibu memegang peranan penting mulai dari penanaman hingga panen. 70% orang yang bekerja adalah wanita, sedangkan pria lebih sering melakukan penjualan dan mengangkat barang berat.

“Hampir semua runtutan di perkebunan, ibu-ibu ikut campur di dalamnya. Ibu saya pernah ikut Bapak saya menebang hutan, membuka lahan. Bahkan sampai mencuci, dan pulping, itu ibu2. Karena itu di Gayo, hampir 70% kopi, disentuh ibu-ibu. Para lelaki melakukan kerja keras, seperti mengangkut panen dari kebun ke rumah, kemudian dari rumah ke pabrik.”
Menanam dan merawat tanaman kopi, terutama Arabika, adalah sebuah pekerjaan besar. Dan upacara adalah bahasa yang mempermudah pemahaman ilmiah menjadi sesuatu yang puitis yang warga Gayo bisa dengan mudah pahami. Ritual seperti ini adalah tradisi lama, dan tanpa cerita yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita tidak akan menemukan kopi Gayo seperti sekarang ini.

Foto-foto oleh Win Hasnawi

MICHELLE ANINDYA lebih sering bengong daripada menulis. Ia senang berimajinasi tentang apa saja dari astronomi ke kopi – yep sejauh itu.

Female Movers from the Foothill of Mount Semeru


0