Kopi yang baik itu baik untuk Orang Utan

 In Coffee Conversation

IRFAN KORTSCHAK

Read in English

Sumatra adalah kawasan dengan alam yang kaya, dengan keadaan geografis yang bergejolak. Baru-baru ini, sekitar seratus ribu tahun yang lalu, letusan vulkanik terbesar yang pernah dialami Bumi menciptakan kaldera terbesar di dunia, yang sekarang menjadi Danau Toba, danau terdalam di seluruh dunia. Letusan lainnya yang lebih kecil menyebabkan munculnya puncak baru di tengah danau, yang kemudian runtuh dan membentuk Pulau Samosir, pulau di dalam pulau, juga yang terbesar di dunia.

Sekitar 50 km di selatannya, terbentang kecamatan Tapanuli Selatan, yang berbukit-bukit dan berhutan lebat, yang merupakan habitat asli orangutan Tapanuli yang terancam punah. Wilayah ini juga merupakan kampung halaman suku Mandheling dan Ankola, yang merupakan bagian dari masyarakat Batak yang ekstrovert dan lantang. Di dataran tingginya, para petani menanam kopi Mandheling Ankola Sipirok, yang dikenal penduduk setempat dengan sebutan Sipirok, kadang-kadang dengan menggunakan kompos organik di lahan tumpangsari bersamaan dengan aren, yang memberikan cita rasa yang berbeda pada kopi Sipirok.

Sholi Pohan, orang asli Sipirok dan juga pakar kopi yang bekerja di Conservation International untuk merancang dan memimpin program-program pelatihan bagi para petani kopi, sangat membanggakan kopi yang diproduksi di wilayah ini. Ia juga meyakini bahwa pengelolaan kopi ini belum mencapai potensi penuhnya, dan ciri-ciri uniknya masih belum dikenal oleh pasar kelas atas. Menurutnya, para petani masih belum menggunakan teknik produksi yang optimal. Sejak tahun 2005 hingga 2012, setelah tsunami, ia bekerja di Aceh di Takengon dan di dataran tinggi Gayo, yang mengandalkan kopi sebagai hasil pertanian utama dan kontributor besar bagi perekonomian.

“Para petani di Dataran Tinggi Gayo lebih maju sekitar 15 tahun dibandingkan para petani di sini,” ujarnya. “Mereka memahami pentingnya memilih tanaman yang baik dan menggunakan teknik yang ramah lingkungan yang mengakibatkan peningkatan hasil panen dengan kualitas yang lebih baik.”

Ketika ia kembali ke kampung halamannya, ia mendapati betapa para petani tidak mengetahui cara melakukan tumpangsari kopi dengan pohon buah-buahan dan sayuran, pohon rindang, cara mengendalikan erosi, serta cara menggunakan kompos organik dan insektisida.

Salah satu alasan yang meyebabkan Conservation International terlibat adalah betapa menguntungkannya bagi lingkungan apabila petani menghasilkan kopi kelas tinggi di lahan-lahan berukuran kecil daripada menanam kopi jenis yang lebih murah di lahan yang lebih luas karena keterbatasan lahan yang ada. Pendapatan yang lebih tinggi dari lahan yang lebih kecil akan menghindarkan penggunaan lahan taman nasional oleh petani, yang merupakan tempat tinggal orangutan, harimau, dan spesies langka lainnya. Meskipun Sholi mengatakan bahwa teknik pamen para petani telah mengalami peningkatan setelah adanya pelatihan, ia masih meyakini bahwa para petani belum benar-benar memahami tanaman mereka sendiri.

Warung ini menyediakan tujuh jenis kopi premium lokal. Ini bukan untuk mencari keuntungan… Kebanyakan pelanggannya adalah petani lokal, yang boleh minum sebanyak yang yang mereka mau, dari jenis apa saja yang ada, secara gratis.

“Kebanyakan petani tidak meminum kopi berkualitas tinggi; seringnya hanya kopi robusta yang bergula banyak,” ujarnya.

Meskipun para petani yang mengikuti kursus pelatihan umumnya mempercayainya, mereka tidak memiliki pemahaman intuitif terhadap proses yang mereka lakukan.

“Mencoba meningkatkan teknik produksi mereka seperti mengajari orang buta mengecat!” kata Sholi. “Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang membedakan kopi yang enak dan yang tidak enak!”

Untuk menambah pengetahuan para petani tersebut, Sholi membuka Coffee Shop Angkola Kopi Sipirok di ruang tak terpakai di tempat bisnis ekspor kopi keluarganya. Warung kopi ini selayaknya warung kopi kecil yang bisa kita temukan di mana saja di wilayah pedesaan Indonesia: sederhana, dengan bangku besar dan meja biasa. Namun demikian, warung kopi ini dilengkapi dengan pemanggang dan penggiling kopi berkualitas tinggi, dan diawaki dua pemuda dengan sertifikasi dalam pencicipan kopi.

Warung ini menyediakan tujuh jenis kopi premium lokal. Ini bukan untuk mencari keuntungan. Keuntungan terbesar Sholi berasal dari penjualan biji kopi ke penyalur kopi di Jakarta, Medan, dan kota-kota besar lainnya. Kita bisa saja membeli biji kopi di warung ini, tetapi tidak ada banyak orang yang melewati desa terpencil ini. Kebanyakan pelanggannya adalah petani lokal, yang boleh minum sebanyak yang mereka mau, dari jenis apa saja yang ada, secara gratis. Sholi membuka warung ini hanya karena ia ingin para petani memahami kopi yang mereka hasilkan, untuk menghargai hasil panen mereka. Ia pun mendorong para petani untuk memanfaatkan warungnya sebagai tempat memperluas jaringan, untuk datang dan bicara tentang kopi, bertukar kiat-kiat dalam menanam, bertukar informasi mengenai pasar.

Mursal Sutami Lubis adalah salah seorang dari sekelompok kecil petani yang tengah berkumpul di warung itu, meraba dan merasakan biji-biji kopi dengan jemari mereka, sambilberbincang tentang kopi. Di hadapannya, sebuah gelas yang berisi kopi hitam tanpa gula.

Selepas menyesapnya, ia bersandar dan berujar, “Lemon, dengan sedikit aroma aren!”

Ia kemudian menyesap gelas yang lain, dan berkata, “Yang ini ada aroma cokelatnya!”

Mursal sepakat dengan Sholi bahwa, sebelum ini, dia sama sekali tidak tahu banyak tentang hasil panennya.

“Pembeli bisa saja bilang biji kopi kami berkualitas buruk dan kami tidak bisa berkata apa-apa. Kami tahu kami dibodohi, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Mursal mengeluhkan tentang dampak tidak adanya pengakuan atas kopi Sipirok terhadap harga yang diterimanya. Ia hampir selalu menggunakan teknik pertanian organik, membuat kompos dari limbah sayuran dan kotoran hewan. Ia tahu bahwa di banyak tempat lainnya, kopi yang diproduksi secara organik dapat dijual dengan harga premium. Namun para pembelinya tidak mau membayar lebih dan menyamakannya dengan kopi yang ditanam dengan bahan kimia. Menurutnya, satu-satunya cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan membangun merek bagi kopi dari daerah ini.

“Sebagian besar kopi yang dijual dengan label ‘Mandheling’ bahkan tidak ditanam di Mandheling,”

katanya. “Para pedagang menggunakan nama itu karena sudah terkenal. Orang luar daerah banyak yang sama sekali belum tahu tentang kopi Sipirok.”

“Pembeli bisa saja bilang biji kopi kami berkualitas buruk dan kami tidak bisa berkata apa-apa. Kami tahu kami dibodohi, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Sholi mengangguk dan sepakat, lalu berkata, “Belum cukup hanya dengan menanam kopi yang bagus. Orang-orang di seluruh dunia ketika mendengar kata “Sipirok” harus berpikir ‘kopi enak!’ Harga yang kita dapatkan untuk kopi kita sangat bergantung pada cara pandang orang. Setelah kita mendapatkan reputasi yang baik, yang harus kita lakukan adalah memastikan agar kualitasnya terjaga. Dan apabila petani menerima pendapatan yang lebih banyak, mereka akan termotivasi untuk terus menanam kopi yang baik. Sebagian besar nilai yang diberikan orang pada kopi datangnya dari persepsi. Kalau kita meningkatkan persepsi itu, petani akan terus menghasilkan kopi berkualitas di lahan kecil menggunakan teknik ramah lingkungan dan padat karya karena mereka tahu dengan cara itu mereka bisa menghasilkan uang lebih banyak!”

Di sekeliling meja, kelompok petani tadi mengangguk setuju sembari menikmati cita rasa lemon dan aren dari kopi yang mereka sesap.

Translasi oleh Daniel Prasetyo

IRFAN KORTSCHAK sudah sejak lama tinggal di Indonesia. Dia adalah penulis, translator, editor, dan pop antropologis. Dia telah bekerja di berbagai proyek konservasi yang melibatkan petani kopi, perlindungan hutan, dan green agrikultur.

Temukan dia di www.wayang.net

Photo dari penulis

A Moment in Time

Share and Enjoy !

0Shares
0 0


Start typing and press Enter to search