Kopi Robusta Pupuan Semakin Melanglang Dunia

 In Fourth Edition

Read in English

PUTU JULI SASTRAWAN

Bali lambat laun tak hanya terkenal karena pariwisatanya, tapi juga kopi Fine Robustanya. Belakangan ini, memang kopi Fine Robusta dari Pupuan semakin meningkat penjualan dan kualitasnya. Berdasarkan data yang dikutip dari dinas pertanian Tabanan, Pupuan memiliki hampir 10,000 ha untuk kopi Fine Robusta. Dari total luasan tersebut, 80% sudah menghasilkan dengan total produksi sebanyak 6.101,61 ton pertahun. Jika angka-angka ini terus meningkat, bukan tidak mungkin kopi Fine Robusta Pupuan akan semakin dikenal dunia.

Menurut Wayan Dira selaku Ketua MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Robusta Pupuan Bali, jauh sebelum Pupuan terkenal dengan Fine Robustanya, banyak kakek nenek dan generasi sebelumnya telah bertani kopi Robusta, walaupun tidak diproses dengan cara-cara specialty. Selama bertahun-tahun, sebagian besar (sekarang sekitar 80%) warga menggantungkan hidupnya kepada Robusta karena memang itulah komoditas yang dominan. Jumlah yang besar. Namun mengapa tiba-tiba kita mendengar tentang peralihan ke kopi Fine Robusta Penyebabnya adalah masalah klasik yang merubah jalur komoditas apapun: bertambahnya dana dan demand.

screen-shot-2019-04-23-at-13.43.48

Kopi Robusta memang sudah umum dikonsumsi dari dulu, namun Fine Robusta adalah permintaan yang cukup baru. Tanpa demand yang berarti terhadap kopi speciality Robusta, petani memang tidak memiliki insentif untuk menginvestasikan waktunya menjaga kualitas tanaman kopi dan memproses Fine Robusta yang jauh menguras energi. Sehingga meskipun bertahun-tahun bertani kopi Robusta, banyak orang belum mendengar dan melihat kopi Pupuan sebagai kopi berkualitas yang dapat bersaing secara global.

Namun, sekitar satu dekade yang lalu, pasar kopi specialty dunia mulai bangun. Dan kopi Robusta Pupuan yang belum terasah potensinya pun mulai dilirik. Sertifikat MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) diberikan pada kecamatan Pupuan tahun 2017, yang berarti petani dan penjual kopi Pupuan memilik label bukti sah kopi dari Pupuan, benar-bensr datang dari Pupuan dan bukan daerah lainnya. Dana dari pemerintah untuk memodernisasi processing pun mulai masuk. Kira-kira apa hasilnya jika Robusta yang biasa ditanam dan diproses secara biasa-biasa saja, mulai diperhatikan processingnya? Itulah yang menjadi tantangan bagi Desa Pupuan, termasuk Pak Diar di dalamnya, yang kemudian melakukan studi banding ke PUSLIT Jember, untuk mengolah Robusta mereka dengan lebih baik lagi.

yes_dscf8020

Dari sisi processing, mengolah Robusta biasa agar menjadi sekelas specialty memang memiliki tuntutan dana, waktu, dan energi yang jauh lebih besar. Tanamannya sendiri boleh sama dengan Robusta biasa, namun dengan cara pemrosesan yang lebih mendetail dan menyerupai Arabika, kita bisa mendapat hasil yang jauh lebih berkelas dan kompleks dengan citarasa fruity dan malt yang kentara. Ini berarti melakukan langkah-langkah standar dalam memproses specialty Arabika: washer, pulping, hulling, dan drying.

Untuk menjaga kualitas dalam memproses kopi skala besar, beberapa mesin modern wajib dimiliki, seperti mesin pulper dan huller. Pak Dira juga membangun greenhouse berukuran 200 m 2 sebagai tempat pengeringan kopinya yang bisa mengeringkan kopi 2,5 sampai dengan 3 ton sekaligus. Di ketinggian 700-1000 mdpl, udara yang cukup dingin berarti pengeringan kopi akan menjadi lebih lama. Di sisi lain, Robusta pada umumnya senang tumbuh di ketinggian rendah; mungkin itulah yang menyebabkan kopinya lebih enak. “Salah satu faktor yang menjadikan kopi Fine Robusta Pupuan enak mungkin faktor alam. Kopi Robusta di daerah saya ketinggiannya mulai dari 700 sampai 1000 mdpl. Makin tinggi dari permukaan laut makin bagus nanti hasilnya,” ujar Pak Dira.

yes_dscf8030
Greenhouse/Storage Room

Mirip seperti Arabika, Robusta pun dapat diproses honey, natural dan fully wash. Semakin kita berani bereksperimen dengan berbagai macam processing, semakin kita sadar bahwa citarasa yang kita mau dapat diciptakan melalui processing tertentu. “Saya senang bereksperimen dengan berbagai macam cara processing. Kita bisa buat rasa Papua dengan biji-biji daerah lainnya melalui processing yang berbeda. Processing bisa menjadi seru kalau kita mau nyemplung dan giat belajar.”

Soal rasa, tidak usah diragunakan lagi. Kopi Fine Robusta Pupuan memiliki cita rasa dan aroma mirip cokelat yang khas. Dinikmati di kala pagi atau pun petang, tak jadi masalah. Dinikmati bersama dan sendiri pun, juga tak jadi masalah. “Kopi Fine Robusta Pupuan ini memang khas sekali rasanya. Kalau suka, Fine Robustanya juga enak dicampur dengan Arabika mana pun, nyatu rasanya. Mungkin karena tumbuh di dataran yg cukup tinggi untuk skala robusta.”

Kini usaha keras mereka pun mendapatkan hasil, kopi Fine Robusta Pupuan semakin didengar oleh banyak orang dan menjadi barometer kopi Robusta nasional dan bahkan internasional. Tak ketinggalan, kopi Robusta Pupuan pun sempat memenangkan 3 kali juara untuk tingkat nasional dan 2 kali juara untuk tingkat internasional. Pak Diar sendiri mengaku dapat menjual 2-3 ton green beans per bulan. Untuk saat ini, pelanggan yang terbanyak adalah berasal dari Taiwan dan Italia, sedangkan untuk nasional, Jakarta masih mendominasi.

Dengan menggeliatnya dunia perkopian, akan jadi sangat sayang sekali jika usaha ini tidak diteruskan oleh generasi muda. Di mata Pak Diar, ia menjalankan bisnis Robusta karena melihat potensinya yang besar dan menjadi suatu kebanggaan sendiri ketika Robusta Pupuan harum namanya. “Saya senang melihat banyak anak-anak petani mulai suka sebagai petani kopi modern. Menurut saya kalau bisa lebih sering untuk melibatkan anak muda, mengajak mereka duduk bareng untuk berbicara tentang prospek atau masa depan sebagai petani kopi”.

Bagi masyarakat Pupuan, bertani kopi kini tak hanya menjadi sekedar pekerjaan. Bertani kopi adalah bekerja dengan rasa bangga. Mengenalkan Bali tak melulu hanya soal budaya dan pariwisatanya, tapi bisa juga melalui kopinya. Hal itu sudah dilakukan masyarakat pupuan. Kini, giliran kita bagaimana melihat Bali dari sudut pandang yang berbeda.

PUTU JULI SASTRAWAN adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Linguistik Wacana Sastra di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Ia menulis kumpulan cerpen dan menjadi Editor katalog Minikino Film Week 4; International Short Films Festival (2018).

Micro-Roastery Robusta di tengah Gelombang Ketiga


0