Kopi di Tambang Koloni Oranje Nassau

 In Origin

Melihat potensi kopi di Kalimantan Selatan, barangkali pemerintah daerah setempat patut memperjuangkannya dengan lebih serius.  Antara petani, prosesor, roaster, hingga brewer perlu keselarasan agar mampu menghadirkan kopi berkualitas dari Bumi Sultan Suriansyah. Namun kini petani juga harus berhadapan dengan tuntutan ekonomi, gempuran pertambangan, hingga kurangnya ilmu pengetahuan.

Sebelumnya, mari kita intip sedikit metode seduh pemenang Slovakia Brewers Championship 2018, Veronika Galova Vesela. Dalam kejuaraan tersebut, Veronika menggunakan metode yang ia perkenalkan sebagai 1:1:1, yang artinya adalah kopi yang bagus dihasilkan dari petani : roaster : brewer/barista yang bagus pula. Ketiganya menjadi rantai yang saling berkaitan. Satu saja melenceng, maka kopi yang dihasilkan juga tidak maksimal. Begitu juga dengan kopi di Kalimantan Selatan, yang kebunnya terletak di daerah penghasil batu bara terbesar nomor dua di Indonesia ini.

Warisan Koloni di Oranje Nassau

Siapa yang tidak mengenal Pangeran Antasari? Pejuang dari Kalimantan Selatan tersebut menjadi populer kala gambarnya disematkan di salah satu nominal uang rupiah. Kisah perjuangan rakyat Suku Banjar di Kalimantan Selatan melawan penjajah memang dikenal heroik. Nah, di masa inilah kolonial Belanda membangun kawasan tambang batu bara, tepatnya di daerah Pengaron, Kabupaten Banjar.

Kawasan ini menjadi kawasan tambang pertama Belanda di Indonesia, yang kemudian dinamakan Oranje Nassau dan diresmikan oleh Gubernur Rochussen pada 1849. Menurut penuturan para sepuh di kawasan ini, para pendatang dari Belanda ini menjajah, bermukim di Kalimantan Selatan, membuka pertambangan batu bara, dan juga mencoba menanam kopi. Melihat runut sejarah, Kalimantan Selatan yang saat itu masih berbentuk Kesultanan Banjar, memang masih di bawah penjajahan Belanda hingga tahun 1940.

Warga Belanda berkumpul bersama. (Foto: Koleksi Tropenmuseum Amsterdam)

Daerah Pengaron sendiri adalah daerah yang subur dan banyak dimanfaatkan oleh penduduk asli sebagai area bercocok tanam untuk kebutuhan ekonomi mereka. Kopi adalah salah satunya, terbukti dari ditemukannya varietas Coffea canephora var. Robusta di kawasan Pengaron. Bagi masyarakat di Kalimantan Selatan sendiri, Pengaron memang terkenal dengan kopinya.

Terdiri dari 12 desa (Desa Pengaron, Panyiuran, Alimukim, Antaraku, Ati’im, Benteng, Lumpangi, Lok Tunggul, Lobang Baru, Kertak Empat, Lumpangi, Mangkauk dan Maniapun), selama berpuluh-puluh tahun, penduduk Pengaron bekerja sebagai petani. Namun berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Banjar, semenjak tahun 2016, pengembangan kopi sudah mulai dilakukan secara lebih serius menggunakan dana APBN.

Ada 20 hektare lahan yang dikembangkan menjadi kebun kopi secara terorganisir di Desa Lok Tunggul, dan 10 hektare tambahan pada tahun 2019. Ditargetkan pada tahun 2024, penambahan luasan kebun kopi hingga 300 hektare.

Hal ini tentu menjadi angin segar bagi perkembangan kopi di Kalimantan Selatan. Namun edukasi yang minim masih menjadi masalah.

Banyak petani masih belum bisa membedakan varietas tanaman kopi. Sebagai contoh, mereka menyebut kopi dengan kualitas baik sebagai Arabika, sedangkan kopi dengan kualitas yang kurang bagus sebagai Robusta. Padahal, kopi yang mereka bicarakan sama-sama kopi Robusta. Selain itu, mereka juga memiliki sebutan tersendiri untuk tanaman kopi mereka, seperti kopi Kakao dan lain-lain. Tanaman kopi di sini pun sebagian sudah berumur tua.

Para anak muda di daerah ini juga tampak enggan meneruskan kebun kopi seperti pendahulunya, apalagi kopi dihargai dengan harga yang rendah karena kopi bukan komoditas utama. Karet, jahe, sengon, kemiri dan jengkol adalah komoditas pilihan warga sekitar karena memiliki harga yang lebih baik dan penjualan yang konsisten. Memetik buah kopi yang masih hijau untuk kemudian dijemur dan ditumbuk secara tradisional juga masih menjadi kebiasaan.

Untuk konsumsi lokal, kopi Pengaron umumnya dijadikan kopi bubuk yang dicampur dengan jahe, kemudian dijual di pasar-pasar dengan harga yang cukup murah. Kualitas kopi yang disangrai dengan sangat gelap dicampur dengan jagung membuat citarasa asli kopi memang tak lagi bisa dikenali dengan baik.

Berkaca dari Temanggung, salah satu penghasil fine robusta yang sekarang mulai dikenal, bekerja sama dengan Puslitkoka adalah salah satu cara efektif untuk edukasi petani.

Berkaca dari Temanggung, salah satu penghasil fine robusta yang sekarang mulai dikenal, bekerja sama dengan Puslitkoka adalah salah satu cara efektif untuk edukasi petani.

Pada saat itu, pemerintah daerah Temanggung mengirim beberapa petani ke Puslitkoka untuk menerima pelatihan, seperti cara budi daya hingga pascapanen, bahkan ke level uji citarasa kopi dan sedikit ilmu barista. Biaya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Sekarang, kita bisa melihat sendiri hasilnya, di mana pamor kopi Temanggung bahkan sudah sampai di Amerika Serikat.

Ini juga bisa diterapkan di Pengaron.

Kopi Pengaron Bisa Naik Kelas

Ada anggapan bahwa kopi Robusta adalah kopi kelas dua, sehingga kopi Pengaron tak pantas menjadi primadona, bahkan di kedai-kedai kopi di daerahnya sendiri. Padahal, ada banyak kopi robusta yang dapat meninggalkan kesan mendalam, seperti robusta Temanggung dan Oi Bura dari Nusa Tenggara Barat.

Kedua kopi ini unik, karena dari segi rasa menghadirkan rasa fruity, meskipun tetap didominasi rasa dark chocolate yang tebal. Tetapi menyeruput kopi dengan tekstur rasa dark chocolate diselingi rasa fruity mirip jeruk tipis-tipis membuatnya istimewa. Saya yakin, bahwa kopi Pengaron pun bisa menjadi fine robusta. Kesejahteraan petani pun juga bisa bertambah baik seiring dengan harga yang mengikuti kualitas rasa.

Sekarang, daerah Pengaron semakin bermunculan kawasan tambang batu bara dari perusahaan lokal dan asing, serta pembangunan jalan khusus untuk angkutan batu bara. Lahan untuk menanam kopi pun kian tergerus.

Kopi sebenarnya bisa menjadi solusi bagi Kalimantan Selatan, jika ingin lepas dari ketergantungan dengan komoditas batu bara. Hingga sekarang, batu bara masih menjadi komoditi terbesar dan sektor andalan penyumbang ekspor di Kalimantan Selatan. Dengan area tanam yang masih luas, dan peningkatan kualitas, perlahan masyarakat bisa diedukasi untuk mulai menanam kopi dalam jumlah banyak.

Sekarang, daerah Pengaron semakin bermunculan kawasan tambang batu bara dari perusahaan lokal dan asing, serta pembangunan jalan khusus untuk angkutan batu bara. Lahan untuk menanam kopi pun kian tergerus.

Kopi sebenarnya bisa menjadi solusi bagi Kalimantan Selatan, jika ingin lepas dari ketergantungan dengan komoditas batu bara.

Sebagai gambaran, harga satu ton (1.000 kg) batu bara per Januari 2020 adalah Rp917.004. Jika dibandingkan dengan harga green beans kopi fine robusta yang mencapai hingga Rp70.000 per kilogram misalnya, maka sebenarnya pendapatan daerah dari kopi bisa menjadi solusi, agar ketergantunan Kalimantan Selatan dengan SDA yang bisa habis ini dapat dikurangi.

Oleh Syam Indra Pratama

 

 

 

Food Pairing Bukan Hanya Milik Wine. Kopi pun Bisa.
Dusun Warosoba: Antara Kopi dan Adat-istiadat


Comments
  • Dewi
    Reply

    Kereen. Saya dari Kalsel.

Leave a Comment

0

Start typing and press Enter to search