La Brûlerie: Galeri Apresiasi Kopi dan Rempah

 In Seventh Edition, Uncategorized

Dari luar, bangunan sederhana yang didominasi warna hijau dan putih ini mungkin terlihat seperti toko pernak-pernik kuno. Dengan jendela besar yang mempertontonkan isi kafe tersebut, seringkali orang salah kaprah dan mengira bahwa tempat ini adalah toko furnitur vintage atau semacamnya. Memasuki bangunan, kamu akan disambut dengan aroma rempah-rempah dan harumnya kopi hitam. Keduanya pun memiliki cerita tersendiri yang membekas di hati Mbak Chinta Imbran, sang pemilik.

La Brûlerie

Sebelumnya, Mbak Chinta Imbran bekerja di bidang interior, maka itu tak heran furnitur-furnitur–-termasuk yang dipajang di teras tadi—turut meramaikan suasana di toko semi galeri ini. Tak kalah menarik adalah jajaran rempah yang mendominasi hampir di tiap rak di toko mungil ini. Mbak Chinta pun melanjutkan ceritanya tentang mengapa kafe ini lekat dengan rempah-rempah.

Alkisah, Mbak Chinta sempat memijakkan kaki dan tinggal sementara di Perancis dan menyaksikan sendiri bagaimana hampir setiap rumah tinggal memiliki paling tidak sebuah cooking library. Pojok berupa rak atau sekedar tumpukan buku memasak yang digunakan hampir setiap kali sesi memasak berlangsung di dapur rumah tangga itu.

Semakin sering terlibat sesi memasak bersama keluarga dimana Mbak Chinta tinggal saat itu, maka semakin familiarlah dirinya dengan beraneka ragam bumbu dan rempah. Pengetahuan pun bertambah tak kala Mbak Chinta kerap menyempatkan diri untuk berkeliling daerah tinggalnya dan mampir ke beragam toko ataupun pasar yang terkait erat dengan dunia kuliner.

Tidak melulu tentang rempah, jumlah coffeehouse dan café yang berlimpah juga tak luput dari pengamatannya. Memperhatikan budaya ngopi yang ada, Mbak Chinta pun sedikit banyak mengadaptasinya di tempat usahanya. Menenggak kopi sebelum memulai rutinitas pagi menciptakan budaya ngopi ekspres, bukan ngopi dan nongkrong dalam rentang waktu yang lama.

Alkisah, Mbak Chinta sempat memijakkan kaki dan tinggal sementara di Perancis dan menyaksikan sendiri bagaimana hampir setiap rumah tinggal memiliki paling tidak sebuah cooking library. Pojok berupa rak atau sekedar tumpukan buku memasak yang digunakan hampir setiap kali sesi memasak berlangsung di dapur rumah tangga itu.

Pulang ke Jogja, Mbak Chinta memutuskan membuka La Brûlerie yang dalam Bahasa Inggris diartikan sebagai coffee merchant atau pedagang kopi jika di-Bahasa Indonesia-kan.

Inspirasi dari budaya ngopi ekspres tercermin dari tidak banyaknya kursi yang tersedia. Hanya beberapa buah yang mengitari sebuah meja panjang didekat jendela besar disebelah pintu masuk dan dua buah di depan meja kopi dan dua buah didekat meja rempah.

Fokusnya bukanlah sebagai tempat nongkrong untuk menghabiskan waktu, tetapi berfokus pada pengenalan produk yang dijual, mencoba cita rasa masing-masing produk, dan berujung pada transaksi jual beli.

Dan demi perputaran yang cepat, toko ini tidak hanya menerima orderan dari partai besar, tetapi juga menerima pembelian partai kecil agar klien dapat berkenalan terlebih dahulu dengan cita rasa serta kualitas yang dimiliki oleh La Brûlerie.

Rempah-rempah yang diperdagangkan disini sebagian besar merupakan produk dari petani lokal, namun ada yang berasal dari luar Indonesia. Dimana andalan tempat ini adalah kapulaga hijau yang merupakan rempah asli India dan tentu saja banyak dipakai dalam olahan makanan negara kari tersebut.

Dinding Rempah

Mengenalkan rempah tersebut, Mbak Chinta menggunakannya tidak saja pada makanan, tetapi juga pada minuman mereka – tersebutlah menu Kopi Rempah sebagai salah satunya. Sebut saja rempah yang ditambahkan seperti pala, cengkeh, star anise, bunga pala, jahe, kayu manis, dan lada diolah bersama dengan kopi hitam hasil seduhan blend roasted coffee bean Toraja. Kualitas kopi Toraja yang earthy, gelap, dan pekat beradu imbang dengan aroma rempah-rempah khas Indonesia.

Mengapa kapulaga hijau terus diumbar? Tidak hanya bentuk dan warna yang berbeda, kapulaga hijau ini memiliki aroma yang lebih kuat daripada kapulaga lokal Indonesia. Tentu saja hal ini memberikan sensasi berbeda pada masing-masing minuman.

Pilihan kopi Indonesia di La Brûlerie menunjukkan totalitas mereka. Jajaran toples sederhana berisikan beberapa kopi pilihan yang berasal dari berbagai daerah. Berbeda dengan tempat kopi lain di Jogja yang pada umumnya memiliki koleksi serupa antara satu dan lainnya.

Keunggulan La Brûlerie adalah memiliki jalur penghubung menuju petani, atau bahkan langsung ke petani. Mengusung cara ini, Mbak Chinta mencoba menerapkan konsep Fair Trade yang meniadakan peran tengkulak dalam lingkaran perdagangan kopi, yang pada umumnya merugikan pihak petani.

Melengkapi keberadaan meja seduh kopi, ditatalah meja display herbal dan rempah diseberangnya. Tumpukan geragih di beberapa tampah dan karung-karung penyimpanan di bawah meja itu memberikan warna khas Indonesia dan menekankan konsep natural atau back to nature sesuai ide dasar Mbak Chinta.

Jahe, lengkuas , kunyit, kencur, temu-temuan, dan semacamnya menyebarkan aroma menyegarkan didalam ruangan tersebut. Tepat disebelahnya ada meja kecil tempat dipajangnya beraneka sabun dari bahan natural, seperti kopi, jahe, sereh, arang, dan sebagainya.

Merapat ke dinding, adalah beberapa rak tempat menaruh rempah-rempah seperti pala, lada, kapulaga, cengkeh, star anise, bunga pala, kulit pala, kayu manis, dan lainnya.

Menilik jumlah rempah yang ada, sudah pasti akan muncul pertanyaan tentang manfaatnya. Bukan saja sebagai produk aromatik, tetapi beberapa rempah memiliki fungsi umum untuk merilekskan dan menghangatkan jika ditambahkan dalam makanan atau minuman.

Kami tidak ingin menjual fasilitas seperti tempat lainnya. Kami ingin semua orang yang datang disini datang dan belanja setelah menikmati produk kami. Kami menjual kualitas dan bukan kuantitas, kecuali ada yang berminat dalam jumlah banyak. Itulah sebabnya kami juga menerima pembelian skala kecil, yang penting kualitas produk kami dikenal terlebih dahulu”, ujar Mbak Chinta menjelaskan garis besar dari konsep tempat ini.

Sebagai penutup, Mbak Chinta juga memaparkan mengapa beliau memilih kopi dan remppah-rempah sebagai fokusnya. “Indonesia termasuk lima negara besar penghasil kopi dan sejak dulu merupakan negara yang kaya akan rempah, jadi mengapa tidak kita menunjukkan hal kekayaan negara ini.

Oleh Petto
Foto oleh La Brûlerie

Subak Abian: Ibadah di Ladang Kopi


Leave a Comment

0