Mohammad Fakhri: Menjuarai Kompetisi dengan Tangan Kiri

 In Fourth Edition
fakhri_2

Mohammad Fakhri, lelaki tangguh yang terlahir dengan satu tangan ini sudah mencecap manis dan harumnya kopi sedari SD. Bukannya diawali karena kesukaannya akan kopi , melainkan sang ibunda membuat dirinya meminum kopi di usia yang cukup muda. Sarjana Strata Satu Psikologi ini menuturkan bahwa menurut sang ibunda, dirinya memiliki kebiasaan tidur yang terlalu lama. Maka beliau pun ‘mencekoki’ Fakhri dengan kopi kegemarannya, yakni kopi sachet – Indocafe Coffee Mix, dan itu menjadi kopi pertama dalam kehidupan Mohammad Fakhri.

Masa menikmati kopi seduh manual dimulai saat perjalanan suka duka Fakhri menjalani S2 Kriminologi, Universitas Indonesia dimulai. Kedai Filosofi Kopi menjadi saksi tempat pertemuan antara Muhammad Fakhri dan secangkir kopi karya seduhan tangan manual. Kopi tersebut adalah salah satu single origin yang berasal dari Jawa Barat. Pada waktu itu, sebagai seorang customer awam yang mencicipi kopi di usia SD, Fakhri merasa bingung dengan cita rasa kopi Jawa Barat, seduhan tangan seorang barista Filosofi Kopi. “Kopi kok kayak teh rasanya? Kok, bisa ya??” Di kedai inilah, Fakhri untuk pertama kalinya berkenalan dengan Muhammad Aga.

Tempat tinggal mereka yang berdekatan memberikan banyak kesempatan untuk bersama-sama menelusuri cerita kopi Indonesia yang terus membangkitkan rasa penasaran. Salah satu kedai kopi di Jakarta, yang berlokasi di Jl. Panglima Polim, Harapan Jaya, juga menjadi tempat persinggahan rutin bagi Fakhri dan Aga untuk mengasah keterampilan mereka dalam menyeduh kopi secara manual.

Untuk varietas kopi Indonesia yang begitu marak dan meriah, Bang Fakhri sendiri jatuh cinta pada kopi single origin Kuning Galih, varietas Andung Sari, proses natural. Cita rasa fruity memang cenderung menjadi lebih jelas rasanya, lebih kuat juga aromanya, karena biji kopi telah melalui proses natural. Cita rasanya lebih ‘pronounced’.

Pemenang kompetisi Manual Brew, IBRC seIndonesia di tahun 2019 ini, berpendapat bahwa kemauan untuk belajar dan kerendahan hati adalah pasangan kunci utama. Berbekal ini, bermacam-macam kedai kopi dikunjunginya, mulai dari warung hingga coffee shop specialty berkelas. Ia pun juga mengikuti beberapa kompetisi kecil-kecilan di Jakarta sebagai sarana latihannya. Melalui pengalaman bercerita tentang kopi di hadapan para juri dan begitu banyak penonton yang terdiri dari beberapa kalangan,kepercayaan diripun terasah. Namun baginya, sikap kerendahan hati, mau berbagi pengalaman, mau mengajar dan diajar, sebagai penyeduh kopi adalah hal yang wajib
dipupuk.

Bagi Bang Fakhri, keberhasilan seseorang tidak luput dari dukungan moral yang besar dari kerabat, sahabat, dan pihak keluarga, khususnya sang kakak. Jalinan pertemanan di dalam komunitas penjelajah dan penikmat kopi telah mengantarnya kepada gerbang kesempatan untuk menjunjung nama Indonesia di Boston nanti. Kompetisi IBRC 2019 yang telah dimenangkannya, mengusung tema “Coffee Connects People”. Muhammad Fakhri bersyukur atas jaringan persahabatannya yang bertumbuh melalui kopi. Tanpa kolaborasi indah yang tercipta bersama para penikmat kopi dari berbagai kalangan, proses pembelajaran tentang kopi akan jauh lebih lambat.

Foto oleh Fierza @ranakolektif

NIKE memulai karirnya sebagai guru TK, kemudian barista. Ia senang mengenal orang lain dan baginya, kopi adalah medium yang sempurna untuk saling membuka hati dan berbagi pikiran.

Es Kopi Susu: Memodernisasikan Robusta


0