Pasca Gempa, Kelompok Perempuan Bangkit dengan Kopi

 In Third Edition

PUTU JULI SASTRAWAN

Read in English

dsc_1823

Gempa adalah bencana. Namun bagi sekelompok kecil wanita di Lombok Utara, gempa adalah berkah yang terselubung.

Berdasarkan data yang terhimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa Lombok di bulan Agustus 2018 mengakibatkan kerusakan sebesarh 71.962 unit rumah, 671 fasilitas pendidikan, 52 unit fasilitas kesehatan, 128 unit fasilitas peribadatan dan sarana infrastruktur. Sedangkan data korban adalah 460 orang meninggal dunia, 7.733 korban luka-luka, dan 417.529 mengungsi. Perkiraan kerugian sementara yang dilakukan oleh BNPB akibat Gempa Lombok mencapai triliunan. Angka ini belum termasuk kerugian yang diakibatkan oleh penurunan kunjungan wisatawan lokal dan manca negara. Di tengah situasi kelam tersebut, warga yang masih selamat saling bahu membahu untuk bangkit, di antaranya adalah kelompok ibu-ibu yang berada di desa Medana, Lombok Utara. Sadar akan kerugian ekonomi pasca gempa, belasan ibu-ibu tersebut tidak tinggal diam. Kebiasaan mengolah dan menyeduh kopi untuk diri sendiri dan keluarga, membuat mereka bangkit dengan cara menjual kopi Robusta.

Dengan adanya gempa ini, kita merasa lebih dekat, silaturahmi lebih dekat, bahkan satu kampung kan jadinya kenal dekat karena kopi, ya saling semangatin lah. Tidak hanya bencana yang kita lihat, tapi masih ada sisi positifnya juga.

Pasca gempa mereka berkumpul di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara pada pukul 9 pagi. Mereka mengolah kopi tersebut di posko karena masing-masing rumah dari anggota kelompok ini rusak parah. Dari jam 9 hingga siang hari inilah mereka berkumpul, mensortir kopi, menyangrai, dan mengemasnya. Tak hanya itu, sambil memproduksi kopi mereka juga
bercerita, bercengkrama satu dengan yang lain, serta memberi semangat untuk diri dan teman kelompoknya yang terdiri dari perwakilan 4 RT di dusun ini. “Dengan adanya gempa ini, kita merasa lebih dekat, silaturahmi lebih dekat, bahkan satu kampung kan jadinya kenal dekat karena kopi, ya saling semangatin lah. Tidak hanya bencana yang kita lihat, tapi masih ada sisi positifnya juga,” ujar Bu Meijta Ancelino, ketua kelompok ibu-ibu setempat.

dsc_1864

Bergerak sendiri begitu melelahkan dan lama, sehingga jadilah mereka membuat kelompok yang mereka namakan Nona Pacu, atau dalam bahasa Lombok berarti Perempuan Kuat, ibu-ibu kuat, ibu-ibu strong! Berjalan beberapa hari, mereka mengetahui nama Nona Pacu itu sudah ada yang menggunakan, sehingga akhirnya dibuatlah kesepakatan untuk mengganti nama kelompoknya dengan nama baru, Kelompok Harapan Bunda, sesuai dengan cita-cita mereka untuk hari esok yang lebih sejahtera.

Kelompok Harapan Bunda membeli biji kopi langsung dari petani kopi di Lombok Utara, tidak melalui pengepul. Tidak banyak kopi yang dihasilkan setelah gempa. Alat-alat menyangrai pun mereka dapatkan dari relawan gempa karena banyak yang hilang dan rusak. Dari 5 kg biji kopi yang mereka beli, mereka pilah lagi berdasarkan tingkat kematangan bijinya.

dsc_2049

Semua proses pembuatan kopi ini masih melalui cara-cara tradisional. Setelah mereka membeli biji kopi, mereka mencuci, kemudian menjemur kopi biasanya selama satu hari. Setelah itu barulah masuk ke dalam proses sangrai. Dalam proses ini, kelompok ibu-ibu mempertimbangkan betul tingkat kematangannya. Misalnya, untuk menyangrai 1 kg kopi, mereka perlu membaginya menjadi tiga bagian agar biji kopi bisa matang secara rata. Proses yang lama memang, namun itulah jerih payah yang mesti dihadapi dengan cara yang tradisional.

dsc_2053

Selain cara sangrainya, ibu-ibu ini juga terampil dalam meracik kopi yang menjadi khas Lombok. Misalnya, masyarakat sering menambahkan cokelat dan pasir laut ketika kopi disangrai agar mengurangi rasa pahit yang umumnya ditemukan di kopi Robusta. Cara
lain adalah menyeduh kopi dengan air kelapa karena menurut penuturan Ibu Meijta, air kelapa membuat cita rasa kopi menjadi lebih enak, dan cara penyeduhan ini termasuk favorit di kalangan ibu-ibu. Untuk menyasar pasar yang lebih luas, mereka juga menjual green beans dan kopi bubuk ukuran kecil seharga Rp 2.000 untuk masyarakat sekitar.

Masyarakat sering menambahkan cokelat dan pasir laut ketika kopi disangrai agar mengurangi rasa pahit yang umumnya
ditemukan di kopi Robusta. Cara lain adalah menyeduh kopi dengan air kelapa karena menurut penuturan Ibu Meijta, air kelapa membuat cita rasa kopi menjadi lebih enak, dan cara penyeduhan ini termasuk favorit di kalangan ibu-ibu.

Saat dijumpai, Ibu Meijta mengatakan kalau dia sangat senang bisa bangkit bersama-sama melawan kegelisahan seusai gempa. Banyak sekali tantangannya membangun bisnis ini, mulai dari memikirkan inovasi pengemasan hingga cara pemasarannya. Sekarang ini, tantangan yang paling besar adalah packaging. Bu Meijta yakin bahwa kopi mereka dapat bersaing di dunia perkopian; mereka hanya perlu memikirkan pengemasan yang lebih menjual sehingga bisa dititipkan di berbagai coffee shops.

Namun yang pasti, dengan mantap mereka menamakan kopi mereka dengan kopi Lindur. Lindur dalam bahasa Lombok berarti gempa. Karena walaupun gempa adalah bencana, gempa juga adalah berkat dalam tragedi yang menyatukan mereka. Di tengah kejadian ini, mereka masih bisa bersyukur, karena gempa mereka bisa bertemu, saling menyemangati satu dengan yang sama lain, dan bangkit bersama-sama.

Foto-foto oleh WAYAN MARTINO

PUTU JULI SASTRAWAN adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Linguistik Wacana
Sastra di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Ia menulis kumpulan cerpen
Lelaki Kantong Sperma (2018) dan menjadi Editor katalog Minikino Film Week 4;
International Short Films Festival (2018).

Imas Suryati: Dari Mimpi Lalu ke Kopi
Ibu-Ibu Mengurai Waktu


0