Pulang: Melihat Kopi Malino Dari Kejauhan

 In Sixth Edition

Beberapa kali berbincang dengan petani yang sudah berumur, salah satu celoteh yang sering terdengar adalah bagaimana melanjutkan usaha pertanian jika anak-anak mereka memilih merantau ke kota besar. Memang tantangan di kota terkadang terlalu menggoda untuk anak muda. Namun sekarang ini, ketika dampak specialty menuntut perhatian yang lebih jauh ke hulu, kopi sendiri lah yang seringkali membawa para perantau kembali pulang.

Mungkin kalian sudah kenal dengan Yolan Tirta. Kopi Enrekangnya, hasil dari kebun kopi ibunya, adalah salah satu kopi asal Sulawesi yang selalu terpercaya kualitasnya. Lahir di Makassar dan besar di Jakarta, Yolan mulai melanjutkan bisnis ibunya di Enrekang semenjak tahun 2013. Untuk pertama kalinya, kopi Enrekang dari kebun ibu diproses dengan praktik-praktik specialty dan sekarang ini, kopi Enrekangnya bisa ditemukan di berbagai coffee shop ternama di Jakarta.

Dua tahun terakhir, Yolan mulai melirik potensi kopi Malino, kota kecil di atas bukit kabupaten Goa, dua jam dari Toraja.

via inixindomakassar.id/

“Seumur hidup saya belum pernah ke Malino, kota kelahiran Bapak,” ujar Yolan. “Bapak pun sudah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Malino. Pertama kali bertemu keluarga besar di sana, kami hanya liat-liatan—saking tidak yakinnya.”

Malino, selayaknya kota yang masih belum banyak terjamah hingar-binggar kehidupan kota besar, masih amat asri. Dengan ketinggian 1.000 meter di atas laut, Malino sering menarik perhatian wisatawan yang ingin mencari ketenangan di antara tingginya pohon-pohon pinus. “Malino itu hutan. Hutannya tinggi-tinggi. Dan di dalamya kopi semua.” Namun Malino bukanlah kota yang terkenal dengan kopinya.

Yolan pun mendapatkan kesempatan untuk pulang kampung pertama kali ketika kenalannya dari Malino berkunjung ke Jakarta. “Kerabat jauh saya ini petani kopi juga di Malino. Sampai di Jakarta, ia melihat gudang kopi saya dan saya diajak berkunjung ke Malino.”

Sesampainya di sana dan setelah Yolan membagikan pengalamannya mengerjakan spesialti kopi,  kerabat jauhnya pun merasa mantap untuk menekuni dunia kopi secara lebih lanjut, apalagi karena kejenuhannya dengan kopi asalan. Mulailah mereka melihat berbagai macam video dari YouTube yang mengurai tentang kompleksnya dunia specialty. Dan video yang mereka selalu kembali lagi untuk referensi adalah video-video travel milik Sweet Maria’s, sebuah blog home-roasting asal California, Amerika yang sudah bertahan lebih dari dua decade.

“Pas saat itu kan ada tuh mereka keliling dunia. Salah satunya adalah Toraja. Dari situ kita melihat video-video Sweet Maria’s lainnya tentang bagaimana orang membangun berbagai perangkat untuk specialty kopi, seperti membangun bak untuk fermentasi dan floating,” terang Yolan yang menerapkan proses fully wash. Mulailah Yolan membangun relasi dengan keluarga dari Bapak yang sudah lama tak jumpa ini, melalui kopi. Satu keluarga kecil itu pun ikut merintis usaha ini dari bawah, semua dilakukan dari nol, bersama-sama.

“Senangnya, mereka sendiri pro-aktif, sehingga mudah kita kerjasama. Mereka juga pintar cari bantuan lewat dinas. Waktu ini ada dari dinas kehutanan datang, bantu memberi modal untuk membangun gudang, membeli peralatan, pulper. Jadi perkembangan kualitas kopinya pesat,” ujar Yolan. “Untungnya, ada Bapak saya yang berbahasa Malino, sehingga memudahkan berkomunikasi dengan petani di sana.” Mungkin tali kekeluargaan ini juga lah yang membuat kopi Malino terasa lebih nikmat.

“Banyak pohon kopi Malino sendiri yang perlu diremajakan. Namun Malino memiliki lingkungan yang amat baik—hutan, tidak seperti di Enrekang yang banyak pohonnya sudah ditebang.” Selain karena ketinggiannya yang pas untuk menanam arabika berkualitas, kopi di Malino yang masih terlindung hutan pinus juga memiliki masa panen yang lama, terkadang hingga Januari.  Kopi Malino dengan citarasa plum, raisin, grape, umami, dan black pepper ini pun siap dinikmati.

Sementara untuk pengeringan, Yolan memfasilitasi keluarganya dengan membangun greenhouse. Maklum, Sulawesi memiliki curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, sehingga kopi memakan waktu lebih lama untuk kering dan membawa kopi turun gunung ke tempat pengeringan yang lebih layak bukan juga solusi.

Lagi-lagi, jalanan yang masih kurang baik masih seringkali menjadi masalah di Sulawesi, sehingga mempersulit perpindahan barang antar kota. Perjalanan ke Toraja sendiri akan memakan waktu 7-8 jam dengan bus, ke Enrekang 6-7 jam, dan ke Malino 2 jam. “Pelan-pelan semuanya akan berubah. Jalanan rencana akan diaspal sampai dusun-dusunnya, mempermudah akses.”

Dengan dimudahkannya akses, semoga para pekerja kopi di sisi hilir pun akan melancong ke Sulawesi—dari Toraja hingga Enrekang—membuka diri ke pemahan-pemahaman baru tentang dunia processing kopi sehingga pengertian antar pegiat kopi dari hulu ke hilir pun bertambah. Karena perjalanan sebuah kopi tidak hanya dari satu tangan ke tangan yang lain. Apa yang terjadi di luar ruangan coffee shop, di luar roaster, di luar kota, di luar pulau seringkali terbatas kita ketahui dari dunia maya, dan itu tidak lah cukup.

“Saya sudah bergelut di dunia kopi dari tahun 2013, yang pada saat itu belum ada yang lain yang menekuni bisnis ini. Dan sepanjang 6 tahun ini bergelut di dunia kopi, salah satu yang saya harapkan adalah roasters bisa lebih memahami kondisi di processing,” ujar Yolan. Selayaknya seorang processor, Yolan juga membayar para petani, mendanai setiap langkah mereka dalam processing, seperti membeli pupuk, memberi pinjaman, membiayai riset, dan mempersiapkan musim panen yang maksimal. Semua dilakukan dengan dana sendiri sebelum masa panen mulai. Baru setelah musim panen mulai dan karung-karung kopi terjual ke roaster, balik modal pelan-pelan terjadi. Usaha yang riskan, memang. “Kopi specialty membutuhkan modal yang besar, namun bergeraknya memang lambat,” lanjut Yolan. Masalahnya, seringkali ada juga roaster yang menahan pembayarannya hingga berminggu-minggu.

Cara yang ditempuh Yolan dengan memberi pinjaman dan mendanai pertanian sepanjang tahun, memang berprinsip seperti tengkulang. “Namun saya tidak tekan harga. Menekan harga ke petani memang tidak pantas, namun di sisi lain, tengkulak jugalah yang membantu petani secara langsung. Harusnya jangan bilang tengkulak itu jelek. Kan tidak ada roastery yang mendanai petani secara langsung—membeli pupuk, memberi modal,” tutupnya.

Banyak hal di dunia kopi yang terjadi, namun tidak diketahui. Rantai kopi kadang terasa misterius, apa yang terjadi di kebun terasa jauh di belakang layar. Namun mirip dengan kisah Yolan dan Bapaknya yang menjalin relasi kembali dengan keluarga yang telah lama hilang, berbisnis kopi juga adalah mengenai menjaga hubungan dengan siapa pun yang ada di dalamnya, termasuk petani. Jalan kepercayaan ini perlu dibangun. Tanpa kepercayaan, rantai apa pun tidak akan cukup kuat untuk mendukung industri kopi.

“Tidak ada petani yang sama. Semua memiliki kebutuhan berbeda. Karena itu intinya, berbisnis kopi adalah mengenai menjaga kepercayaan, menjalin kekeluargaan.”

Foto-foto oleh Yolan

 

 

 

Profil: Otten Coffee
Menceritakan Desa Pedawa Melalui Kopi


Leave a Comment

0