Loading Post...

You have reached the bottom. Let’s shuffle the article!

Post Not Found

Aktivasi Kedai Kopi Sebagai Ruang Publik Melalui Kultur Zine

 In Coffee Conversations

Kedai Kopi dalam Gelombang Perubahan Sosial

Di awal abad ke-18, kehadiran kopi cukup membuat heboh orang-orang yang saat itu baru pertama kali mencicipinya. Pada saat itu, kedai kopi sempat menjadi salah satu penggerak industri berita karena para penulisnya sering nongkrong dan bekerja di sana. Kedai kopi juga menjadi ajang kumpul para seniman, tempat membaca, dan menjadi pusat pertemuan para intelektual untuk membahas hal-hal filosofis, berdiskusi secara kritis, dan berdebat dengan sehat. Tidak heran jika orang-orang juga melihat kedai kopi layaknya kampus sebagai tempat untuk belajar dan mendapatkan pencerahan akal sehat namun dalam versi yang lebih mudah diakses oleh publik saat itu.

Kemunculan kedai kopi dengan kebiasaannya yang baru ini terus memancing perdebatan di kalangan penguasa. Hal ini berujung pada upaya pelarangan dan penggiringan opini publik terhadap keberadaan kedai kopi di beberapa negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. 

Namun semakin ditentang, semakin membangkang. Upaya pelarangan kopi dan kedai kopi justru memicu ledakan ide-ide baru selama masa pencerahan. 

Meskipun kekuasaan menerapkan aturan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dibahas oleh warga, tetapi percakapan bebas tentang situasi sosial politik selalu mendapatkan celahnya bahkan semakin mengalir deras di kedai-kedai kopi yang ada. 

Orang-orang mulai mempertanyakan kekuasaan absolut yang dimiliki oleh kerajaan. Dinamika ini pada akhirnya menumbuhkan semangat revolusi, kemudian mengentalkan ide-ide tentang demokrasi modern yang mengubah sejarah dan iklim politik di seluruh dunia. Pada revolusi Amerika (1765-1784) dan Revolusi Prancis (1798-1799), kedai kopi menjadi tempat untuk melakukan konsolidasi, pengorganisiran, dan penggalangan dukungan untuk gerakan perubahan. Beberapa literatur menuliskan salah satu kedai kopi di Boston Amerika sampai dijuluki sebagai markas besar revolusi karena menampung banyak pertemuan penting selama perang revolusi terjadi. Saat itu, pertemuan penting bagi para pelaku revolusi dilakukan di bagian kedai paling bawah atau ruang bawah tanah untuk menghindari sergapan dan penangkapan oleh pihak penguasa. Begitu juga dengan kedai kopi di Paris yang menjadi rumah bagi para penulis-penulis terkenal menanam benih demokrasi di kedai kopi, dengan diskusi-diskusi tentang pencerahan yang mendorong terjadinya revolusi Prancis.

Aktivasi Toko Seniman sebagai Ruang Publik

Peristiwa tentang kedai kopi dan revolusi yang telah terjadi di beberapa tempat bukanlah sebuah cerita fiksi sehingga kedai kopi sebagai bangunan yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial merupakan hal yang memang benar-benar bisa dilakukan. Jika belum bisa seperti dua peristiwa besar di atas, setidaknya kedai kopi masih bisa hadir sebagai ruang publik yang dapat menjadi tempat bagi gagasan-gagasan yang terus diperbarui, imajinasi yang terus dikembangkan, dan mimpi-mimpi manusia yang dibuat terus hidup tanpa batas. Saya percaya bahwa kedai kopi masih bisa hadir tidak hanya sebatas menjadi tempat jual-beli makanan dan minuman saja namun juga memiliki fungsi lain bagi masyarakat di sekitarnya. Berangkat dari sana saya kemudian tertarik untuk melakukan eksperimen dalam mengaktivasi Toko Seniman sebagai ruang publik berbasis komunitas melalui program Seniman Residency.

Saya membayangkan Toko Seniman menjadi kedai kopi yang mampu memainkan perannya sebagai ruang publik sehingga dapat mendorong lahirnya komunitas sosial yang mendukung para partisipannya untuk bisa berpikir dan berekspresi dengan bebas tanpa tekanan.

Beberapa pemikir sosial berpendapat bahwa ruang publik adalah area ataupun tempat dimana suatu masyarakat atau komunitas dapat berkumpul untuk meraih tujuan yang sama dan berbagi cerita mengenai permasalahan yang dihadapi baik secara pribadi maupun kelompok. Ruang publik merupakan salah satu syarat penting bagi demokrasi oleh karena itu ruang publik menjamin setiap orang dapat menyatakan opini, kepentingan, dan kebutuhan mereka secara diskursif. Ruang publik harus bersifat bebas, terbuka, transparan, otonom, dan mudah diakses oleh semua orang. Lebih lanjut, orang-orang di dalam ruang publik tidak hanya bisa berkomunikasi mengenai kegelisahan-kegelisahan politis yang mereka alami, tetapi juga berhak menyatakan sikap terhadap kebijakan politik yang memengaruhi hidup mereka.

Saya membayangkan Toko Seniman menjadi kedai kopi yang mampu memainkan perannya sebagai ruang publik sehingga dapat mendorong lahirnya komunitas sosial yang mendukung para partisipannya untuk bisa berpikir dan berekspresi dengan bebas tanpa tekanan. Toko Seniman yang diaktivasi dengan inklusif juga akan membuka potensi tumbuhnya jaringan belajar dan kerja kolaborasi lintas disiplin di antara para pengunjung kedai kopi untuk meraih apa yang dirasa menjadi kepentingan bersama, dalam konteks menuju perubahan yang lebih baik—dari hal personal sampai yang struktural.

Baca juga, Pengalam Saya Mengawinkan Kopi dan Komedi Selama Sebulan.

Zine sebagai Katalis

Dalam upaya mengaktivasi ruang publik di Toko Seniman, saya memilih zine sebagai alat bantu yang digunakan untuk melakukan kerja-kerja pengorganisiran komunitas, penciptaan momentum dan rangkaian kegiatan yang mampu membangun partisipasi publik di dalam kedai kopi Toko Seniman. Zine (dibaca ziin) diambil dari kata fanzine atau potongan dari kata magazine, adalah sebuah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil, beredar dalam sirkulasi antar teman dan jaringan komunitas dengan menerapkan prinsip-prinsip DIY (Do It Yourself). Sejak awal kemunculannya, zine telah menjadi media alternatif dari bentuk-bentuk publikasi arus utama yang cenderung terpusat dan seragam. Informasi yang disajikan di dalam zine biasanya tergolong informasi yang jarang hadir di media lainnya sehingga zine menawarkan sebuah perspektif yang berbeda sekaligus menjadi ruang ekspresi dan imajinasi bagi para pembuatnya dalam menuangkan berbagai gagasan, perasaan, pendapat, dan hal apapun yang mereka suka.

Kita tahu tidak semua jenis informasi bisa ditemukan pada majalah-majalah mainstream karena media-media “besar dan formal” memiliki arahan konten dan politik redaksionalnya sendiri. Beberapa topik mungkin akan terlalu sensitif atau bahkan subversif bagi mereka, beberapa ekspresi bisa saja tidak sesuai dengan standar moral dari pihak-pihak tertentu, atau mungkin tulisan curhat dan hobi personal yang diminati seseorang belum tentu menarik di mata mereka, sehingga tidak semua hal bisa ditampung dengan mudah oleh media mainstream apalagi mereka biasanya harus mengikuti permintaan pasar dan menyesuaikan medianya dengan kepentingan besar dari pemilik saham media tersebut. Keberadaan zine mendorong publik untuk membuat medianya sendiri sehingga tidak terus bergantung pada media-media besar. Zine selalu meyakinkan komunitas yang terlibat di dalamnya untuk merumuskan identitas, menunjukkan ketertarikan, memahami kebutuhan, dan menyuarakan kepentingan-kepentingannya secara mandiri. Zine selalu menyediakan ruang bagi narasi-narasi yang terpinggirkan untuk kemudian diapresiasi dan diteruskan kepada publik.

Kita tahu tidak semua jenis informasi bisa ditemukan pada majalah-majalah mainstream karena media-media “besar dan formal” memiliki arahan konten dan politik redaksionalnya sendiri. Beberapa topik mungkin akan terlalu sensitif atau bahkan subversif bagi mereka, beberapa ekspresi bisa saja tidak sesuai dengan standar moral dari pihak-pihak tertentu,

Secara teknis, zine biasanya diproduksi dengan mesin fotokopi mengingat biayanya yang murah dan bisa dicetak dalam jumlah yang sedikit namun belakangan zine juga mulai diproduksi menggunakan mesin cetak digital, mesin risograph, dan mesin offset dalam jumlah yang banyak. Tampilan zine pun menjadi semakin beragam, tidak melulu hitam putih namun memiliki banyak warna dengan tata letak dan visual grafis yang apik sehingga semakin diminati oleh pembaca. Etos DIY (Do It Yourself) yang melekat pada kultur zine membuat zine menjadi sesuatu yang bisa dikerjakan oleh semua orang. Tidak ada batasan dalam sebuah zine kecuali batasan tersebut ditentukan oleh mereka yang membuat zine itu sendiri. Para pembuat zine akan menggunakan setiap kemungkinan dan potensi yang dimilikinya untuk memproduksi zinenya sendiri secara maksimal, melupakan semua prasyarat baku tentang sebuah media cetak yang justru hanya menjadi penghambat bagi produktivitas dan kreativitas mereka.

Meskipun dalam beberapa hal zine bisa menjadi sangat personal namun di sisi yang lain zine memiliki bangunan sosial yang dapat memberdayakan komunitas yang ada di sekitarnya. Secara historis, zine memiliki peran sebagai alat untuk berkomunikasi, menjalin pertemanan, dan membangun jaringan antar komunitas di dalam ekosistem yang saling mendukung satu sama lain. Zine berperan sebagai sumber pengetahuan bagi komunitasnya karena zine telah menjadi rumah bagi ide atau gagasan tentang berbagai wacana alternatif yang dibangun serta diperkuat melalui kerja-kerja ideologis dan kebudayaan yang dilakukan oleh para pembuat zine. Perwujudan dan pelaksanaan kerja-kerja di ranah ini telah membuat para pembuat zine ini—baik disadari atau tidak, menjadi intellectual organic bagi komunitasnya. Dengan segala hal yang telah melekat pada zine, saya yakin bahwa zine dapat berperan sebagai katalis untuk memperbesar partisipasi para pengunjung kedai kopi dalam upaya mengaktivasi Toko Seniman sebagai ruang publik berbasis komunitas.

Seniman Residency bersama Gilang Propagila

Selama dua bulan menjalani program Seniman Residency di Toko Seniman Denpasar, saya turut membawa zine-zine yang saya punya ke Toko Seniman agar bisa dibaca oleh publik, dalam hal ini para pengunjung kedai kopi. Dari sekitar seribu lebih zine yang telah saya kumpulkan selama hampir 17 tahun, saya memilih sekitar 300-an zine untuk dibawa ke Toko Seniman kemudian ditempatkan secara terpisah di beberapa sudut kedai. Topik bahasan dari zine-zine yang saya bawa sangat beragam mulai dari ulasan tentang skena dan musik underground, presentasi seni grafis, fotografi, komik, jurnal personal, catatan minat dan hobi para pembuatnya, kucing yang disayang, analisis sosial politik, isu perempuan dan kesetaraan gender, wacana kebebasan dan perjuangan warga, bacaan lingkungan hidup, kesehatan mental, gaya hidup vegetarian, resep masakan, subkultur hardcore punk dan masih banyak topik-topik tidak terduga lainnya. Keragaman ini diharapkan dapat mengakomodir minat baca para pengunjung Toko Seniman yang berasal dari berbagai latar belakang. Zine yang mereka baca akan menjadi pintu masuk pertama dalam upaya mendorong keterlibatan mereka untuk kegiatan-kegiatan berikutnya.

Di antara zine-zine yang saya bawa ke Toko Seniman, ada beberapa zine yang lumayan sering ditanyakan untuk dibaca oleh para pengunjung Toko Seniman. Zine Datang Bulan buatan Hairembulan menjadi salah satu dari sekian banyak zine yang menjadi favorit pengunjung. Zine ini berisi tulisan, esai, cerita, dan tips dilengkapi dengan ilustrasi visual yang apik tentang perempuan dan menstruasi dengan narasi-narasi menarik yang melingkupinya. Selanjutnya zine yang menjadi favorit adalah An Ode To Friends Chicken buatan Fran Hakim yang menyajikan ulasan mengenai beberapa merek dagang makanan siap saji di Jakarta dengan menu andalan ayam goreng tepung. Selain itu beberapa zine tentang hardcore punk dan komunitas pesepeda juga lumayan sering dibaca oleh para pengunjung.

Setelah menyediakan zine sebagai bahan bacaan yang dapat menemani waktu ngopi santai di kedai kopi, saya menyusun rangkaian program aktivasi ruang publik di Toko Seniman lewat beberapa kegiatan yang memiliki keterkaitan dengan zine. Langkah ini bertujuan untuk membuka partisipasi publik dalam merespons zine-zine yang saya bawa sekaligus menyediakan ruang temu bagi para pengunjung yang memiliki ketertarikan terhadap zine untuk saling kenal dan berinteraksi satu sama lain. Kegiatan-kegiatan ini dikemas dalam bentuk Klub Baca Zine, Workshop Bikin Zine, Bincang-Bincang tentang Zine, dan Peluncuran Zine yang baru diterbitkan. Tidak hanya menyasar keterlibatan para pengunjung kedai kopi, menjelang akhir residensi saya juga mengajak para Staff Toko Seniman untuk menyusun satu zine berjudul ZINEMAN ZINE yang fokus mengangkat hal-hal menarik yang ada di Toko Seniman. Selain itu saya turut menambahkan dua kegiatan yang berada di ranah musik yaitu Sesi Putar Koleksi Rilisan Musik, dan Pertunjukan Musik Sederhana di rooftop Toko Seniman Denpasar, sebagai upaya memperluas partisipasi publik dan membuka kemungkinan pertemuan antara para penikmat musik dengan penggemar literasi yang tertarik dengan zine.

Partisipasi Publik Dalam Kegiatan-Kegiatan di Toko Seniman

KLUB BACA ZINE menjadi kegiatan publik pertama yang dilakukan dalam program Seniman Residency bersama Gilang Propagila di Toko Seniman Denpasar. Jika pada hari-hari biasanya para pengunjung membaca koleksi zine yang ada di Toko Seniman secara terpisah dan sendiri-sendiri, maka pada KLUB BACA ZINE para pengunjung tidak hanya membaca zine bersama tetapi juga diajak untuk mengulas dan membagi kesan yang mereka dapat setelah membaca zine-zine tersebut. Saat KLUB BACA ZINE berlangsung, para pengunjung dapat memilih dan membaca zine yang telah disiapkan di meja baca kemudian sebelum pulang setiap pengunjung secara bergantian membagikan hal-hal menarik yang didapatkan setelah membaca zine yang tadi dipilih. Beberapa pengunjung menyampaikan ulasannya tentang zine-zine yang dibaca, sebagiannya lagi tanpa segan mengajukan pertanyaan terkait topik-topik yang ditemukan di dalam zine mulai dari upaya mencintai diri, counter culture dan jebakan komodifikasi, kegemaran bersepeda, wacana hardcore punk, dan seterusnya. Forum ini ditanggapi oleh pengunjung lainnya dengan baik. Saling tukar pandangan, melengkapi informasi, dan menawarkan gagasan atas topik yang dilempar membuat diskusi berjalan cukup hidup. Siapa sangka dari satu zine personal yang dibaca secara acak justru bisa memantik dialog tentang sosial politik yang lebih struktural. Sebagian pengunjung menyampaikan kalau mereka terkesan karena dari tongkrongan santai di kedai kopi bisa menghasilkan diskusi yang biasanya ditemukan di ruang-ruang akademisi.

Melihat respons publik terhadap KLUB BACA ZINE yang baik, maka WORKSHOP BIKIN ZINE digelar menjadi kegiatan publik kedua yang dilakukan di Toko Seniman. Lokakarya ini diselenggarakan untuk berbagi keterampilan dalam membuat zine mengingat pada KLUB BACA ZINE sebelumnya ada banyak pengunjung yang menyatakan diri tertarik dengan zine dan penasaran bagaimana cara membuat zine. Pada WORKSHOP BIKIN ZINE, para peserta yang mengikuti lokakarya mendapatkan informasi tentang apa itu zine, bagaimana sejarah dan perkembangannya, bagaimana cara membuatnya kemudian melakukan praktik membuat zine bersama-sama. Lokakarya ini diikuti oleh beragam peserta mulai dari pelajar SMK, mahasiswa S1 sampai S3, dosen dan pengajar, ibu dan anak, pekerja lepas dan kantoran, seniman grafis dan yang lainnya. Setiap sesi lokakarya ini menghasilkan kompilasi zinenya masing-masing yaitu AN EMPTY CUP ZINE dan KAPIBARA ZINE. Kedua kompilasi zine ini mengumpulkan berbagai curahan perasaan dan pikiran yang dituangkan secara kreatif, jujur, dan bebas dalam banyak karya buatan para peserta lokakarya. Beragam harapan, pendapat acak, uneg-uneg, pemikiran kritis, curhatan, ingatan dan mantra personal terwujud dalam banyak catatan, ilustrasi grafis, karya kolase, fotografi, komik, dan puisi. Beragam topik dibahas di dalam zine ini seperti upaya mencintai diri sendiri, perenungan dan identitas diri, kecemasan kawula muda, proses transisi diri, kritik terhadap lembaga pendidikan, pandangan kritis terhadap pembangunan di Bali, refleksi terhadap stereotype orang Bali, penolakan terhadap standar kecantikan yang memberatkan perempuan, resep masakan, daftar putar lagu dan potongan lirik favorit, pengalaman rekreasi di taman kota, cerpen hingga ulasan singkat tentang acara komunitas di Bali.

Setelah KLUB BACA ZINE dan Workshop Bikin Zine, MEET THE ZINEMAKER digelar sebagai sesi bincang santai dan mendengar cerita dari para pembuat zine yang ada di Bali tentang zine yang telah mereka buat, bagaimana proses di balik pembuatan dan distribusi zine buatan mereka, apa kendala dan hal menarik yang didapatkan selama membuat zine, dan seterusnya. Sesi ini dibuat untuk berbagi semangat, khususnya kepada para pengunjung Toko Seniman yang tertarik dengan zine agar semakin yakin untuk membuat zinenya sendiri. MEET THE ZINEMAKER menghadirkan Agus KEPALAKOSONK (Zine Mixergrinder), Atmaje (Pelajar yang aktif membuat zine), Daffa WS (Mahasiswa yang mengangkat tugas akhir tentang zine), Gilang Propagila (Penerbit dan Pengarsip Zine), dan Para Pembuat AN EMPTY CUP ZINE untuk menyampaikan cerita-ceritanya.

Pada ranah musik, SESI PUTAR KOLEKSI KASET PITA & PIRINGAN HITAM digelar untuk memberikan kesempatan mendengar dan berbagi cerita tentang kaset pita dan piringan hitam yang menjadi koleksi favorit para pengunjung Toko Seniman. Pada kegiatan ini, telah disediakan alat putar kaset pita dan piringan hitam kemudian siapa saja tinggal datang membawa koleksi kaset pita dan piringan hitam miliknya. Para pengunjung yang datang untuk memutarkan koleksinya turut bercerita tentang hal-hal menarik yang ada di balik koleksi rilisan fisik tersebut. Pada kesempatan yang lain, sesi ini mendatangkan Pak IPUNX KiGoBlock selaku kolektor senior untuk berbagi pengalamannya dalam merawat kaset pita dan piringan hitam serta alat pemutarnya. Pada saat itu bergabung juga Bapak Joe selaku kolektor dan seorang audiophile—sebutan untuk para penikmat musik dengan perangkat audio tingkat lanjut, yang memberikan banyak informasi tentang upaya membangun perangkat audio yang mumpuni dalam rangka memberikan pengalaman mendengarkan rilisan fisik musik secara maksimal. Para pengunjung datang membawa keragaman warna musik dari koleksi miliknya. Sore itu Toko Seniman diramaikan oleh keragaman bebunyian yang datang dari kaset-kaset dan piringan hitam musik progresif rock, punk rock, alunan nada surf rock yang menggoda, funk and soul, hingga tembang pop lawas berbahasa Bali.

Terakhir, BAR-BAR BQ tercetus sebagai upaya aktivasi ruang yang ada di lantai paling atas di Toko Seniman dengan melakukan kegiatan diskusi rutin program Singalong dari Toko Seniman, dicampur dengan beberapa program dari Seniman Residency bersama Gilang Propagila dalam bentuk pertunjukan musik DJ, selekta musik menggunakan kaset pita, penampilan eksperimental visual mapping, pameran arsip zine dengan kurasi tertentu, distribusi zine hasil workshop, dan peluncuran zine buatan Staff di Toko Seniman. Selama program Seniman Residency bersama Gilang Propagila, BAR-BAR BQ digelar dua kali pada akhir Februari dan akhir Maret 2023. BAR-BAR BQ pertama diawali dengan diskusi santai tentang jajanan pasar dilengkapi dengan pameran arsip zine tema kuliner dan makanan-minuman. Lalu pada BAR-BAR BQ kedua diawali dengan bincang santai membahas proses Seniman Residency bersama Gilang Propagila dilengkapi dengan peluncuran ZINEMAN ZINE yang disusun oleh Staff Toko Seniman. Banyak partisipan yang terkesan dengan gelarkan BAR-BAR BQ ini karena venue dan atmosfer yang tercipta pada saat itu cukup berbeda dari acara-acara biasanya yang ada di Kota Denpasar. Semua pihak menikmati jalannya diskusi, penampilan musik dan visual mapping dilengkapi dengan menu spesial yang disajikan oleh tim floor, bar, dan kitchen dari Toko Seniman. BAR-BAR BQ menjadi ruang publik di kedai kopi yang mempertemukan beragam segmen mulai dari kuliner, musik, seni visual, dan literasi.

Penutup: Saatnya Meneruskan Apa Yang Telah Dimulai

Selama dua bulan sejak akhir Januari sampai akhir Maret 2023, program Seniman Residency bersama Gilang Propagila telah berjalan dengan beragam kegiatan publik yang telah dilakukan di Toko Seniman. Proses yang telah dilalui menunjukkan bahwa zine dengan segala hal yang telah melekat padanya mampu menjadi katalis untuk memperbesar partisipasi para pengunjung kedai kopi dalam upaya mengaktivasi Toko Seniman sebagai ruang publik berbasis komunitas.

Para pengunjung kedai kopi yang selama ini terlibat di dalam program Seniman Residency bersama Gilang Propagila tidak ditempatkan sebagai objek melainkan didorong untuk menjadi pelaku aktif yang turut punya andil besar dalam setiap kegiatan-kegiatan yang ada. Hal ini membuat apa yang mereka jalani di Toko Seniman menjadi lebih bermakna. Ada banyak kesan baik yang didapatkan oleh para partisipan, menjadi pengalaman yang cukup personal. Proses ini juga membuat Toko Seniman tidak menjadi kedai kopi yang hanya berkutat pada persoalan kopi dengan logika dan transaksi jual-belinya saja, namun Toko Seniman menjadi kedai kopi yang turut berkontribusi dalam upaya membangun ruang aman dan nyaman bagi siapapun untuk belajar, berkarya, berbagi informasi dan kesenangan, serta menjalin pertemanan melalui zine dan aktivitasnya.

Apa yang telah dicapai lewat eksperimen singkat ini mungkin masih berupa percikan-percikan kecil yang masih jauh dari fase perubahan sosial dalam skala besar. Namun, capaian mungil ini ternyata memberikan kesan yang baik bagi semua pihak yang terlibat dalam dinamika ini. Tentu saja, langkah ini tidak boleh berhenti sampai di sini karena perayaan ruang publik melalui zine dengan berbagai aktivitasnya harus terus hidup di mana saja. Oleh karena itu, saatnya meneruskan apa yang telah dimulai.  ***

 

Ada banyak kesan baik yang didapatkan oleh para partisipan, menjadi pengalaman yang cukup personal. Proses ini juga membuat Toko Seniman tidak menjadi kedai kopi yang hanya berkutat pada persoalan kopi dengan logika dan transaksi jual-belinya saja, namun Toko Seniman menjadi kedai kopi yang turut berkontribusi dalam upaya membangun ruang aman dan nyaman bagi siapapun untuk belajar, berkarya, berbagi informasi dan kesenangan, serta menjalin pertemanan melalui zine dan aktivitasnya.

 



Demetria, ProfilePrint, dan AI Kopi yang (Masih) Sia-Sia

Start typing and press Enter to search