Loading Post...

You have reached the bottom. Let’s shuffle the article!

Post Not Found

Pengalaman Saya Mengawinkan Kopi dan Komedi Selama Sebulan

 In Coffee Conversations

Seniman Coffee Resident: Mohammad Sabeq dan Abdul Sahdi 

(Ditulis oleh Mohammad Sabeq)

Sebagai seorang komika (stand-up comedian) sekaligus penulis, saya selalu penasaran untuk mencari tahu sejauh mana komedi bisa berkembang. Beberapa cara saya lakukan, seperti mengikuti kabar terbaru, mempelajari teori yang ada, hingga praktek. Makanya ketika kesempatan untuk melakukan penelitian tentang komedi datang, tanpa basa-basi langsung saya iya-kan. Meski pun ini adalah pengalaman baru yang pernah saya jalani di bidang komedi dan menulis.

Selama sebulan, tepatnya tanggal 17 Oktober hingga 13 November 2022, melalui program Seniman Coffee Residency, saya melakukan penelitian sederhana untuk mencari tahu; benarkah ada keterkaitan antara kopi dan komedi. Sederhananya, saya ingin membuktikan bahwa kopi atau kandungan kafein di dalamnya mempengaruhi mood seseorang dalam berkreasi, secara spesifik berguna untuk menulis lawakan-lawakan (materi) komedi tunggal (stand-up comedy). 

Oya, sebelum kamu melanjutkan membaca tulisan ini, perlu saya memberitahu bahwa tulisan ini isinya lebih ke curahan hati, ya. Jadi gak bakal baku macam karya atau jurnal ilmiah gitu. Boleh, ya? Nah, kalau tertarik, silakan dilanjut bacanya. Hehe.

Salah satu peserta belajar menulis premis

 

Lebih dari Sekadar Nongkrong

Awalnya Residensi ini saya lakukan bersama Abdul Hadi, salah satu komika Standupindo Bali sekaligus MC kondang di pulau Dewata Bali. Namun karena dua minggu menjelang akhir Residensi, Abdul mengalami kecelakaan lalu lintas dan akhirnya saya sendirilah yang melanjutkan penelitian kecil ini.

Sekadar intermezzo, kawan saya si Abdul Hadi ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang tangan kirinya patah sehingga tangannya harus dimasukkan sejenis besi untuk pemulihan. Di bayangan saya, Abdul saat ini punya potensi jadi manusia Cyborg, minimal kayak Tony Stark. Cuman mungkin bedanya, Abdul bukan filantropi.

Sebagai komika, mencari kegelisahan di kehidupan sendiri adalah salah satu cara menulis premis.

 Oke, lanjut. Jadi kegiatan Residensi selama sebulan ini ada beberapa agenda yang harus saya lakukan. Pertama, saya mencari empat orang sebagai subjek penelitian yang terdiri dari komika-komika baru dan/atau komika yang kesulitan menulis materi komedinya. Tujuannya untuk membagi mereka menjadi dua grup konsumen; non-coffee dan coffee. Setelah itu mereka dibekali dengan workshop menulis komedi berdasarkan apa yang saya tahu.

Sayangnya, yang konsisten ikut eksperimen sebulan hanya satu orang. Namanya Adi Kokbisa, seorang pesulap. Akhirnya saya harus menyesuaikan lagi metode penelitian dengan mencari lebih banyak sampel (subjek) untuk diwawancara. Syukurnya, ada total 16 orang lebih yang berhasil saya wawancara terkait pengalaman mereka mengkonsumsi kopi.

Agenda Kedua, membuka klinik komedi. Setiap hari (kecuali Rabu; soalnya saya butuh tidur juga), saya hadir di Toko Seniman sembari menuntun para subjek penelitian untuk konsultasi kepenulisan komedi. Di tengah-tengah sesi tersebut, saya mengajak mereka mendiskusikan topik-topik seputar kopi. Harapannya, mereka mendapat inspirasi untuk menulis lawakan baru tentang kopi, minimal mereka punya pengetahuan seputar industri perkopian. Menariknya, klinik komedi ini terbuka untuk umum juga.

Ketiga, mengikuti agenda Singalong di akhir pekan. Selama sebulan, ada dua kali agenda Singalong yang kami lakukan. Pertama, bersama Abdul. Kedua, bersama Adi Kokbisa. Di situ, kami menceritakan progres penelitian kami di hadapan para pengunjung Toko Seniman.

Keempat, mengadakan workshop public speaking untuk karyawan Seniman Coffee. Berlokasi di dua tempat, yakni di Seniman Ubud dan Toko Seniman Denpasar. Tujuannya untuk memberi bekal kepada para karyawan Seniman agar lebih luwes lagi dalam berinteraksi dengan costumer. Misi terselubungnya, sih, untuk meracuni karyawan Seniman agar mau nyobain tampil stand-up comedy.

Agenda kelima, final residency atau presentasi hasil penelitian sekalian pertunjukan. Di sinilah puncak dari Residensi, di mana saya harus memaparkan hasil penelitian saya selama sebulan terkait pengaruh kopi terhadap penulisan komedi. Kondisinya sama seperti mahasiswa yang sedang melakukan ujian skripsi, bedanya tidak ada dosen killer yang bikin tegang suasana. Nah, setelah itu lanjut ke sesi pertunjukan sebagai manifestasi agenda klinik komedi sebelumnya.

Line-up yang tampil di pertunjukan final residency cukup ramai. Ada saya sendiri, lalu Adi Kokbisa sebagai subjek penelitian ditambah dua orang karyawan Seniman yang berhasil kami racuni, Reskinov dan Gede Bagiarta. Kami berempat melakukan stand-up comedy sekitar 5-10 menit. Semuanya penampilan kami berdasarkan hasil belajar teori kepenulisan komedi selama Residensi. Menariknya, semua yang tampil berhasil menyisipkan lawakannya tentang kopi.

Baca juga: Coffee cherry? From waste to gluten free flour. 

Final show!

Hasil: Kafein adalah Stimulan 

Berdasarkan data hasil rekaman suara saat wawancara, juga catatan-catatan kecil di handphone (bahkan kadang-kadang ada yang dari hasil ngobrol sana-sini), saya pun membuat klasifikasi untuk menentukan secara pasti bahwa kopi punya andil dalam penulisan komedi. Data-data yang saya kumpulkan tersebut isinya terkait usia, jenis kelamin, pengalaman mereka meminum kopi dan pengaruh meminum kopi terhadap tubuh mereka.

Hasil wawancara atau data tersebut kemudian saya olah dalam bentuk bagan untuk memudahkan menentukan skala prioritas atau rata-rata kinerja. Kerennya, (pede banget, ya) hasil wawancara ini saya didiskusikan bersama Dr. Irvan Kartawiria, wakil rektor Swiss-German University. Alasannya, saya menyadari bahwa kemampuan saya secara akademik sangatlah minim dan bukan kebetulan, Dr. Irvan ini adalah dosen teknik kimia sekaligus komika juga. Jadi, bidangnya memang sangat relate dengan topik Residensi saya.

Nah, hasilnya adalah kandungan kafein dalam kopi ternyata sifatnya hanya stimulan; dalam arti kafein itu pendorong atau perangsang saja. Kopi (kafein) belum terbukti secara linier mempengaruhi kepekaan komedi atau sense of humor seseorang. Sebab sejauh ini sense of humor hanya dapat tercipta dan diasah melalui praktek-praktek komedik atau jam terbang dalam melakukan pertunjukan komedi. 

Adapun kopi atau kafein hanya bisa membantu kita dalam tahap proses produktif sesuai tujuan yang kita inginkan, seperti menciptakan mood positif untuk menulis, menyegarkan tubuh sehingga bisa lebih fokus bekerja, juga di beberapa kasus (berdasarkan wawancara) kafein dapat membantu memperlancar buang air besar. Bahkan yang lebih ekstrim, kafein bisa dikonsumsi sebelum melakukan aktivitas berat seperti ngecor lantai, angkat karung semen, atau matahin besi (mungkin Limbad gitu, ya).

Bahkan yang lebih ekstrim, kafein bisa dikonsumsi sebelum melakukan aktivitas berat seperti ngecor lantai, angkat karung semen, atau matahin besi (mungkin Limbad gitu, ya).

Namun, karena sifatnya stimulan, pengaruh kopi tersebut masih bisa berubah-ubah tergantung kinerja tubuh dalam beradaptasi terhadap kafein, dan juga faktor-faktor internal-eksternal lainnya yang terjadi pada tubuh. Misalnya, Anda meminum kopi di sore hari tapi hasilnya tetap mengantuk karena ternyata Anda lebih banyak meminum air putih sehingga memungkinkan kafein dibersihkan melalui proses ketika Anda buang air kecil. Ada juga kasus seorang barista minum dua gelas kopi agar mood-nya lebih positif dan lebih segar ketika bekerja, tapi ternyata mood-nya tetap berantakan karena diomelin costumer jutek. Hehe.

Intinya, kopi adalah stimulan. Ada efek baik dan buruknya. Bahkan kalau dikonsumsi secara berlebihan, kafein bisa menjadi tidak baik dan memberi efek kurang menyenangkan. Saya secara pribadi merasakan hal tersebut. Jadi selama sebulan melakukan Residensi, durasi dan kuantitas mengkonsumsi kopi saya semakin meningkat. Kalau dulu seminggu cuman sekali, sekarang justru bisa 3 sampai 4 gelas seminggu. Hasilnya, kini warna gigi saya jauh lebih kuning dari seragam kader partai Golkar.

Baca juga: Mengintip toko kopi Bhineka Djaja (Foto Esai)

Apa itu Seniman Coffee Residensi? Program ini mengajak para pegiat kopi, artis, designer, penulis, dll untuk melakukan eksplorasi tentang kopi. Peserta boleh memiliki background kopi maupun tidak. Cari tahu lebih lanjut di sini.



Alur Menerima dan Menyimpan Green Beans di Coffee Roastery

Start typing and press Enter to search