Home Roasting: Goreng Saja Biar Ramai!

 In Profile

Read in English

Tenang para pembaca! Judul di atas tidak ada maksud provokasi seperti demo di jalanan. Maksud dan tujuan dari artikel ini lain dan tak bukan adalah untuk mengenalkan kepada  anda, dan penikmat kopi semuanya yang sedang bertandang membaca artikel Singalong Magazine salah satu rantai di industri kopi, home roasting. Jadi sekarang silahkan ambil kopinya, jauhkan dulu sosial medianya dan selamat menyelami topik goreng yang tidak pakai SARA.

Home roasting. Acap kali istilah ini mampir di telinga penggiat kopi atau mungkin anda menjadi salah satunya. Kegiatan menyangrai biji di level rumahan sudah menjadi sebuah budaya yang berakar di Indonesia jauh sebelum bermunculan berbagai gelombang kopi dan muncul variasi mesin roasting modern.

Bila ditarik jauh beberapa mata rantai ke belakang, metode sangrai rumahan yang tentunya tradisional saat itu dikarenakan kompor tungku adalah satu-satunya alternatif di lingkungan para petani, baik untuk konsumi pribadi maupun dijual.

Hasilnya? Enak sudah pasti. Urusan cocok atau tidak itu jadi selera masing-masing pasar. Satu hal yang pasti adalah meskipun disangrai sesederhana menggoreng kerupuk pasir tanpa variabel yang njelimet atau komputerisasi canggih sekalipun para penggiat  sangrai rumahan ini toh tetap bertahan dan langgeng. Hal ini membuktikan bahwa di sektor pasar manapun, demand terhadap kopi selalu ada.

Turun dari desa, kembali ke kota. Trend home roasting perlahan muncul seiring persaingan kedai kopi yang mencuat tinggi. Para home roaster hadir dengan berbagai latar belakang pula motif yang berbeda.

Ego Prayogo merupakan salah satu dari home roaster yang bergelut di industri kopi  Indonesia dan kini sudah lebih aktif sebagai roastery skala kecil. Kopi yang disangrai digunakan sebagai suplai harian di kedai milikinya, Kedai Kopi Guyon. Sambil menikmati secangkir es kopi susu jingga dan risol buatan mamanya, Ego bercerita bahwa home roasting adalah aktivitas yang awalnya dia tekuni untuk eksperimental.

Berangkat dari pengalaman touring vespa keliling separuh Indonesia (bahkan sampai ke titik 0 di Pulau Weh), Ego mempelajari budaya ngopi di setiap daerah yang dia sambangi. Selain itu dia juga melihat bagaimana setiap kota punya cara tersendiri dalam menyangrai biji secara tradisional yang kelak menjadi proses eksperimen Ego dalam belajar menggoreng biji.

“Kalau ngomongin budaya ngopi, setiap daerah punya ciri khas masing-masing kan. Itu yang gue pelajari. Cara goreng juga sama. Gue pernah goreng biji pakai tembikar, kompor, wajan, sampai akhirnya punya modal dan beli mesin.”

Ego Prayogo

Cafe Guyon

“Secara teknis, menurut lo bisa ngga cara sangrai tradisional setara dengan mesin?”

“Untuk saat ini gue masih unggul mesin sih. Karena kalo dibilang bisa ya bisa aja. Tapi kan dengan mesin lo bisa kena konsistensi yang sulit lo dapetin ketika pakai cara tradisional.”

Saat ini Ego sendiri sudah menjajal mesin kedua. Mesin pertamanya Williams telah berganti dengan mesin buatan lokal, Uncle John berkapasitas 2,5 kilogram dengan daya gas. Menurutnya durability mesin tersebut cukup baik terbukti ketika dia menyangrai total satu kwintal biji secara nonstop. Tidak ada bau gosong ataupun hasil sangrai yang tidak rata. Untuk upgrade ke drum dengan kapasitas lebih besar Ego berkata juga belum mau karena masih puas dengan Uncle John tersebut.

Ego dan mesin uncle johnnya

Saya sempat bercanda mengenai prosesnya menjalani home roasting. Percaya atau tidak, Ego menyangrai kopi di rumah kontrakan petaknya di Cipete. Dibalik usaha besar di tengah keterbatas tersebut, apakah kegiatan perkopiannya menggangu tetangga kontrakan?

“Keganggu sih engga ya, apalagi yang listriknya sampe ngejepret semua. Tapi dulu awalnya mereka sempet takut kebakaran gitu karena kan bau gosong. Tapi kesini udah santai sih. Biasa aja.”

Masalah trend home roasting sendiri, Ego yakin bahwa kegiatan ini semakin mudah dilakukan zaman sekarang, apalagi dengan mudahnya akses ke penjual green beans.

Kalo dulu, orang roasting di rumah susah nyari kontak petani atau makelar biji kan. Kalau sekarang, petani aja punya sosmed. Mau macem apa aja ya ada tinggal pilih. Itu sih salah satu faktor yang membuatnya jadi trend.

Sebagai pelaku bisnis dia juga tidak menutup mata pada sektor penjualan online sehingga produknya dapat dibeli melalui salah satu market place.

Kemudian, berbicara mengenai profit setelah trend home roasting merebak ternyata keuntungan yang didapatkan tidak selalu menanjak. Ego menuturkan bahwa yang biasanya bisa menyangrai 350 kilogram sebulan kini drop hampir dua pertiganya menjadi hanya 100 hingga 150 kilogram. Namun Ego menyikapi dengan santai, “ya jumlah goreng boleh nurun, tapi kan ada pemasukan dari kedai juga dan gimana ini bisa sustainable jadi ngga cuma ngehits sekarang aja nanti malah drop jauh.” Selain itu menurut pemaparannya, jumlah omzet yang menurun juga karena faktor bulan Ramadan dan musim panen yang masih beberapa bulan mendatang.

Disela nyelow dan nyeruput kopi filter, dia bercerita bahwa kegiatan home roasting nya sudah menapaki langkah yang jauh ke depan untuk mengambil peran di mata rantai ke hulu. Saat ini Ego sedang mengembangkan pemberdayaan desa kopi di Gunung Putri, Jawa Barat.

“Jadi di desa ini, kondisinya agak rural. Sekitar 3 jam naik gunung pakai motor. Disana dulunya lahan teh yang gagal kemudian ditanam kopi. Tapi, karena kurangnya akses informasi jadinya mereka kurang paham bagaimana ngeproses kopi. Lahannya luas tapi berantakan. Bahkan disana aja ngga ada listrik.”

Lalu apa yang Ego lakukan di tengah keterbatasan desa itu?

“Awalnya dateng kesana ketemu warga lokal mereka pasti ada kecurigaan : ini orang mau ngeruk keuntungan doang kali. Makanya dua tahun pertama gue jalanin sebagai  proses PDKT ke warga. Baru setahunan efektif bangun ini itu. Proyek ini udah berjalan sekitar 3 tahun. Gue membantu mereka rehabilitasi kebun, bikin irigasi dan sumber mata air, sampai membuat shelter yang juga jadi perpustakaan kecil untuk anak warga. Jumlah Kepala Keluarga disana totalnya sekitar 30 KK.”

“Lo melakukan banyak proyek kayak gitu sempet ada konflik dengan warga ngga?”

“Konflik sih ada ya. Tapi yah berhasil diredam. Kita buktiin bahwa kita beneran mau bantu. Disana akses jalan itu masih berlumpur kadang banyak pohon tumbang. Kita coba bantu ngebangun desa dengan bikin turbin air biar mereka bisa swadaya listrik, kemudian bikin saluran irigasi dari dua mata air. Sempet bahkan ada perusahaan yang mau mengakuisisi mata air murni itu tapi ngga deh. Gue yakin seiring modernisasi pasti ada kerusakan. Untuk saat ini biarkan mereka lestari seperti sekarang.”

Ketika Ego menunjukan foto lokasi, saya dibuat tercengang dengan akses jalan berlumpur yang harus ditempuh menuju kesana. Lebih kagetnya lagi ketika melihat shelter hasil pembangunan proyek Ego. Shelternya apik dari segi desain dengan pemandangan kebun  kopi, gunung, dan mata air yang bisa dipakai mandi. Kalau saya jadi Ego, wajar dan mengerti kenapa keindahan seperti ini sulit rasanya untuk dirusak modernisasi. Terkadang sama seperti menyangrai biji, modernisasi tidak selalu berarti ada perubahan positif yang signifikan sebagai hasilnya.

Shelter yang dibangun oleh Ego

Ego adalah segelintir penggiat industri kopi yang beranjak melihat lebih jauh mata rantai industri. Bermula dari peminat, pemilik kedai, penyeduh, penyangrai rumahan sampai akhirnya mengambil langkah lebih jauh untuk memberdayakan hulu. Tidak semua orang punya akses kesana dan tidak semua orang mau peduli dengan apa yang terjadi di hulu. Bagi saya, dalam setiap industri apapun perlu ada Ego Ego lainnya yang lahir agar mental manusia tidak hanya sebagai konsumen dan kapitalis, tetapi juga sebagai jiwa konservatif.

Oleh Indah Febryyani

Melda Zhang: Mengharumkan Nama Indonesia di Vietnam
Roaster Rumahan: Yosua Adetya


Leave a Comment

0

Start typing and press Enter to search