Part 5: Cara Tradisional Membuat Kopi

 In #5 Roaster Rumahan, Home Roasting

Audio dan transkrip ada di bawah ini.

Ringkasan Part 1-4:

Ada lubang yang sangat dalam di jalan. Di lubang itu, hutan telah tumbuh, penuh dengan semua jenis tanaman dan hewan. Juga ada hantu manusia yang telah pernah mengendarai sepeda motor, mobil dan truk ke dalam lubang dan mati di sana. Ada juga tumpukan sampah: kantong plastik dengan sayuran busuk, popok dan pembalut wanita, dan banyak lagi. Sampah telah dibuang ke lubang oleh manusia yang tinggal dekat. Empat roh hutan — Bumi, Api (diwakili sebagai Petir), Air dan Udara — berbentuk manusia. Seorang manusia yang terakhir mati di lubang, Pak Yus, juga muncul sebagai hantu. Pak Yus memberi tahu roh bahwa tampilan mereka sebagai manusia tidak terlalu meyakinkan dan bahwa mereka seharusnya belajar lebih baik. Ia menawarkan memperkenalkan mereka kepada beberapa manusia nyata. Roh-roh unsur setuju dan naik ke atas lubang. Pak Yus mengantar mereka ke kebun kopi campur yang sangat disukai roh-roh. Selanjutnya, ia janji akan memperkenalkan mereka kepada pemilik kebun. Dan Episode 5 dari Cara Tradisional Membuat Kopi dimulai …

Baca Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

Oleh Rob Finlayson


[SFX: deng deng deng]

Dalang: Selamat datang, bapak bapak, ibu ibu, anak anak. Selamat datang di Bab 5 dari Cara Tradisional Membuat Kopi.

[SFX: deng deng deng]

D: Anda akan mendengar ada inovasi dalam pertunjukan: musik!

[SFX: deng deng deng]

D: Oke, ini cuman pralon besar dan pralon kecil. Plastik saja bukan kayu lama dengan noda enak. Produsernya adalah pelit banget. Kata saya kepadanya, pertunjukan ini akan menjadi lebih baik kalau ada musik. Hah. Dia bayar untuk dua pralon plastik, besar sama kecil. Sebenarnya saya suka kalau adalah beberapa gemonge: gong, gong, gong. Itu memang sangat bagus. Terdengar lebih profesional. Juga mau saksofon. Semuanya suka saksofon: suaranya halus dan seksi… kelas tinggi. Terus terang, bosan dengan suara sendiri saya. Sudah ngobrol selama dua jam, sendirian. Membuat seni adalah bisnis yang sepi dan kadang-kadang capek deh. Sudah mengatakan kepada produser bahwa saya butuhkan beberapa penyanyi, setidaknya satu sinden. Tolong Tuhan, kirimi saya sinden agar kita semua dapat beristirahat dari suara saya. Tetapi produser mengatakan tidak ada duit, tidak ada duit. Benar-benar dia bohong. Dia memiliki serangkaian ruko termasuk karaoke senang-senang, beberapa kos-kosan, banyak anggkot, dan sebuah kedai kopi dia bergaul dengan teman-temannya. Di sana minum kopi ‘single origin’ dari seluruh dunia sementara memberi saya kopi campuran, namanya ‘house blend’, dengan rasa seperti air limbah. Terus terang, hatinya produser hitam seperti kumisnya. Kehidupan seorang seniman tidaklah mudah. Tapi belum ada penyelesaian jadi lanjutkan dengan pertunjukan!

[SFX: deng deng deng]

Bidadari: Siap!

Dalang: Aduh! Kaget! Hampir kotorin celana.

B: Tidak ada bau.

D: Kata saya ‘hampir’. Ada kekuatan dalam.

B: Selamat.

D: Saya seorang seniman yang terlatih. Dan siapa?

B: Saya?

D: Ya, kamu. Siapakah masuk ke awal acara saya tanpa undangan?

B: Tanpa undangan? Ada.

D: Oya? Siapa yang mengundang engkau?

B: Mas.

D: Tidak.

B: Engkau ingin saya mengutip?

D: Tentu, cobalah.

B: ‘Tolong Tuhan, kirimi saya sinden’.

D: Oya, benar. Aku lupa. Kamu datang dengan cepat.

B: Iya begini: ‘lanjutkan dengan pertunjukan’. Tidak mau berkeliaran di belakang panggung dan tidak mendengar saatnya seharusnya masuk.

D: Benar, benar, jadi engkau seorang profesional. Itu bagus. Tapi juga pasti mahal. Produser tidak akan suka itu.

B: Khawatir terlalu banyak tentang uang, mas. Rejeki akan datang. Mari kita melanjutkan pertunjukan.

D: Tidak bisa mulai sampai mbak memperkenalkan diri sepenuhnya. Di mana CVnya? Dan saya harus audisi mbak untuk memastikan sudah di standar tinggi saya.

B: O benarkah? Kalau begitu mungkin mas bisa bertanya dengan sopan. Saya yakin mas benar-benar lelaki sopan meskipun orang lain mungkin tidak percaya itu.

D: Dengan sopan? Dengan sopan? Seperti ini, mbak: ‘Ayo teruskan itu, bernyanyi’!

B: Itu bukan cara untuk berbicara dengan seorang wanita, mas. Saya tidak akan memperkenalkan diri kecuali jika engkau berbicara dengan sopan, dengan standar tertinggi engkau, minta saya begitu.

D: Oya? Pada standar tertinggi saya, ya? Baiklah kalau begitu. Gimana dengan ini…

Dalam pekat malam, suram, sendirian, kesepian, dingin di puncak ini di mana bintang-bintang surga menutup daun jendela ke permohonan saya, di mana binatang buas mengepung saya, menggeram, menggeram, saya duduk sumedhi, kosong, kosong, kosong tanpa inspirasi, tidak ada senjata ajaib di tangan, menunggu ia yang akan datang kepada saya, yang akan menyembuhkan hati saya yang terluka, jiwa saya yang robek, yang akan memperbaiki sifat saya dan menuntun saya ke keselamatan selamanya, ialah yang saya rindukan, ia yang suaranya adalah sutra seperti sarang semut penenun, yang mata adalah bulan kembar gelap, yang telinganya besar seperti daun tanaman talas, yang kulitnya adalah debu terhalus, yang payudaranya lembut dan bersinar di malam yang hangat, yang hangat terbungkus di dalam kainnya, kainnya yang ketika dilonggarkan, jatuh ke bumi, menjeratku, jadi aku akhirnya bisa mati dalam kebahagiaan.

B: Masa sih: ‘Suaranya sutra seperti sarang semut penenun’? ‘Telinganya besar seperti daun talas’? Jelek banget, mas.

D: Menurut saya, itu kata-kata puisi yang sangat baik.

B: Suaraku tidak penuh dengan semut dan telingaku cukup mungil.

D: Sarangnya sutra, mbak, itu metaforanya, bukan semutnya, semut adalah tokoh ‘walk-on’ saja. Juga telinga yang besar adalah metafora untuk kecerdasan. Apakah kamu tidak mengerti puisi? Bego.

B: Apakah engkau tidak mengerti bagaimana bersikap sopan kepada seorang wanita?

D: Sudah saya memang berharap, Nyonya, puisi saya tadi menyenangkan engkau… Khususnya kata-kata tentang menjatuhkan kainnya. Hihihi.

B: Masa. Itu tidak akan pernah terjadi.

D: Belum ada simpul yang bertahan selamanya, mbak. Sementara itu, mengapa engkau belum bernyanyi? Kita semua sangat ingin mendengar suara indah yang pasti akan keluar dari bibir engkau yang sangat cantik, bibir yang pasti akan mencium dan membelai setiap nuansa suara sesaat keluar dari tenggorokan engkau yang lembut, luwes, cantik sekali, membawakan nuansa cinta, kebaikan, dan harapan yang membahagiakan bagi semua yang punya telinga yang masih bisa mendengar.

B: Sebenarnya itu cukup bagus. Cukup suka itu. Baiklah, saya akan memperkenalkan diri.

[SFX: deng deng deng] [Menyanyikan beberapa baris pertama Mungkin Nanti dalam bahasa Jepang seperti Ariel]

Hanashi tte okitanda

Kitto koreo saigo sa

Subete te ba ma shite shimau wo

Sore ga ima da to omounda

[SFX: deng deng deng keras]

D: Mbak

B: Ya, mas, apa?

D: Maaf ganggu tapi menyanyi di bahasa apa?

B: Aku?

D: Iya, mbak. Bahasa apa itu?

B: Tadi? … Iya apa sih? … Ooo… ya… hihi… maaf, mas… melamun… sorilah.

D: No problem, mbak.

B: Mulai lagi, ya

D: Silakan

B: [bernyanyi di Bahasa Jawa kromo inggil]

Jero ing bumi sing manis, aku goroh, dhuwur ing udhara aku mabur, aku ngobong banyu kanthi luh lan mili, aku putri kabeh unsur, Surga, Bumi, Langit, Ruang Angkoso, Wektu lan Ruang. Bengi iki aku kembang arum sing manis-manis, menehi inspirasi, ngresepake awak, nggawa sampeyan pangarep-arep, lan tresna.

B: Apakah itu, air mata yang aku lihat di mata, mas?

D: Lembab aja, mbak, jangan panik.

B: Belum pernah panik, mas.

D: Jadi… menurut lagunya, engkau adalah seorang bidadari yang saat ini mewakili bunga pohon kopi? Datang untuk menginspirasi saya dan sebagainya? Benarkan?

B: Cukup benar.

D: Terus terang, kamu bernyanyi seperti bidadari.

B: Terima kasih, mas. Jadi mari kita lanjutkan pertunjukan.

D: Maaf, mbak, waktunya habis untuk episode ini. Bagaimana kalau engkau bergabung dengan saya untuk minum di Ruang Hijau di belakang panggung? Kita bisa membahas puisi, musik dan cinta.

B: Minum kopi manis, ya.

D: Pastilah kopinya manis.

END

 

Jenis-Jenis Processing
Roaster Rumahan: Bayu Arya


Leave a Comment

0