Petik Merah Saja: Kisah Gelang Merah dari Pangalengan

 In Third Edition

Text: EKO PURNOMOWIDI
Ilustrasi: HANDOKO HENDROYONO

Read in English

Setelah gempa Pangalengan 2009, para relawan pencinta lingkungan Bandung bahu membahu bersama warga (yang juga petani kopi) menolong mereka yang terluka.

e
c

Memasuki periode “trauma healing”, ternyata kebutuhan utama warga adalah bagaimana kembali hidup normal dengan penghasilan normal. Kebetulan saat itu kopi memasuki masa panen, artinya kegiatan memanen kopi sangat membantu proses “trauma healing” dan perlahan warga bergairah kembali. Harapan hidup kembali datang; ternyata pohon-pohon kopi tidak rusak dan tetap panen.

Dalam kunjungan-kunjungan singkat di kampung seputar Pangalengan, Kertasari, Cidaun, Panggilingan dan Panawuan, ditemukan bahwa sebagian besar petani kopi di Sunda mengira kopi seperti pisang. Apabila di petik hijau akan matang beberapa hari kemudian. Diantaranya adalah Pa Jajang dan Pa Rukman yang beranggapan seperti itu. Perlahan saya bantah,

Kopi adalah buah, namun tidak seperti pisang. Kopi hanya akan matang di pohon, ketika warnanya menjadi merah.

Penjelasannya tidak cukup sampai di situ. Petani perlu di jelaskan sambil praktek. Penjelasan lisan dapat berujung pada kesalahpahaman.

Akhirnya kami ke kebun kopi dan mulai memanen. Sambil panen, kita berbagi ilmu:

1. Buah kopi berbeda dengan buah pisang
2. Kalau petik hijau, kemungkinan batang bawah buahnya terbawa mengakibatkan batangnya luka. Luka itu harus di sembuhkan dahulu sebelum berbunga lagi, artinya tahun depan tidak ada panen. (Panen menjadi setiap 2 tahun sekali).
3. Berat biji merah lebih berat dari pada biji hijau.
4. Biji hijau sulit di giling karena masih keras.

Bicara
Bicara
Bicara

Begitu seterusnya kami berbagi agar petani mengerti. Kendala yang dihadapi saat itu adalah bahasa—para petani Sunda tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Beruntung saya dan Deni Glen adalah orang Sunda asli jadi kendala bahasa tidak besar.

a

Namun ternyata beberapa di antara para petani juga tidak bisa membaca. Akhirnya kami melakukan tes warna. Hasilnya hampir tidak ada yang buta warna. Gelang petik merahlah yang menjadi pilihan.

Warna merah gelang sama dengan warna kopi yang sudah matang, sehingga memudahkan ketika di pakai memetik kopi.

Tulisan “petik merah saja” di gelang pada akhirnya mendorong beberapa petani untuk belajar menulis dan membaca.

d

Ketika itu, kami berniat membuat 2000 gelang saja. Namun setelah dipikir kembali, dengan asumsi 1 keluarga petani mempunyai 2 anak, maka ada 4 orang di keluarga tersebut yang ketika panen/petik turut membantu. Akhirnya kami cetak 10.000 gelang tahun 2015.

Tahap selanjutnya kami mengajak petani ikut uji cita rasa kopi dasar (blind cup).

Kopi A = muda/hijau.
Kopi B = matang/merah
Kopi C = busuk/ merah hitam

Setelah pelatihan ini, petani semakin yakin bahwa petik merah saja yang paling baik kualitasnya.

Pemahaman petani diperoleh melalui mata dan tangannya. Jadi perlu praktek langsung.

Pa Jajang dan Pa Rukman masih menjadi petani kopi Sunda Hejo hingga saat ini.

Eko Purnomowidi
Sunda Hejo

b

EKO PURNOMOWIDI adalah petani, penggerak, pengajar, aktivis, dan pencinta kopi. Ia juga adalah pendiri sekolah alam & kopi Klasik Beans di Garut, Jawa Barat dan aktif membimbing berbagai komunitas kopi dari Sumatera hingga Flores.

HANDOKO HENDROYONO sudah berkarya dalam industri kreatif dalam branding, content creator, storyteller, visual artist hingga penulis dengan empat buku yang sudah rilis.

Gayo adalah Putri
A Traditional Method for Making Coffee


0