Tepuk Tangan Oi Bura dan Berputarnya Mesin Kopi

 In #5 Roaster Rumahan

Read in English

#Fiksi

Seperti suara derap yang meriah, biji kopi bergerak, berporos pada putaran drum mesin panggang. Gemerincing sedikit benturan besi dari perselisihan antara komponen mesin menambah keriuhan pagi ini. Ketika aroma jagung manis menyesap, dan suara letupan kecil sudah seperti tepuk tengan penyambutan. Itulah: first crack.

Peristiwa dikala biji dari buah cherry merah ini mengeluarkan panas dan menyeruakkan aroma yang sungguh menyenangkan, adalah sebuah pengalaman yang menggembirakan, sekaligus memberikan sebuah harapan. Orang-orang nun jauh di sana, yang menyebut diri mereka roaster, di benua yang sesungguhnya tak punya lahan bagus untuk ditanami kopi, menyebut-nyebut kejadian ini adalah first crack! That’s first crack.

Entahlah. Bahasa langitan itu, sepertinya mulai mempengaruhiku. Kalimat first crack terasa mewah di ruang gendang telinga, indah sepertinya. Namun menyisakan tanda tanya dan ribuan keingintahuan lainnya. Tapi dari pengalaman hidup aku belajar, jangan sampai terjebak pada tanda tanya. Alangkah lebih elok, jika mengurainya menjadi pengalaman sesungguhnya.

Kupandangi dalam-dalam, mesin panggang kopiku ini. Mesin kecil, berputar-putar, seperti rembulan yang setia memutari planet bumi. Dia konsisten dan terus bergerak. Tampaknya, aku tak bisa berharap banyak dari mesin ini. Seperti harapan para pemanggang di etalase specialty yang bernarasi panjang soal eksplorasi aroma dan rasa, dengan segala variabel yang memusingkan itu. Setidaknya aku sadar belum ada pada titik itu. Sekadar mendekat pun sepertinya tidak. Pesimis memang!

“Apakah kamu bisa?”

“Apakah setelah kamu berputar, kamu benar-benar mampu mengeluarkan biji kopi yang ajaib?”

“Ayolah, berikan sebuah kejutan.”

Aku berdiskusi dengan mesin itu. Memang percuma, berbicara pada mesin. Namun, setidaknya ini cara memeriahkan suasana pagi, selain suara putaran mesin, sedikit gemerincing besi, dan sesapan asap yang menguap: di rumah. Sebelumnya, aku mendapat buah tangan, berupa kurang dari setengah kilo biji kopi mentah dari seorang sahabat. Ia memang baru saja pulang dari ekspedisi ke Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat.

“Ini dari Desa Oi Bura, mereka adalah petani kopi berdedikasi,” katanya tampak setengah meledak-ledak saat memberikan biji kopi mentah itu kepadaku. “Lihat ini, biji kopi sebagus ini hanya dihargai Rp10.000 satu kilo!”

Aku ingat betul, dia bercerita dengan emosional. Melihat perilaku para rentenir yang menjerat para petani kopi itu. Datang di saat petani belum panen kopi, dan meminjamkan uang. Dengan perjanjian, membayar dengan biji kopi. Saat panen mereka datang dan merenggut biji-biji kopi yang ditanam dengan kasih sayang dan ketulusan itu. Menghargainya dengan murah.

Kini biji kopi berspesies Robusta itu, sudah berputar di dalam mesin panggang kecil di rumahku. Sesekali sambil mengernyitkan alis, aku pandangi kopi Oi Bura itu dengan senter kecil. Dia mulai berubah warna kekuningan. Sepuluh menit memandanginya sambil sesekali memainkan trier spoon, akhirnya terdengarlah suara letupan kecil berulang seperti jagung pop. Ya! First Crack terjadi. First crack menjelma seperti tepuk tangan riuh di benakku. Aku tersenyum. Oi Bura bertepuk tangan gembira rupanya.

Tak maulah aku biji kopi Oi Bura ini terpanggang terlampau hitam. Langsung aku keluarkan saja. Hasilnya? Aku bereskpektasi akan ada keajaiban terjadi. Mungkin akan ada aroma manis kuat atau warna yang menawan. Sangat bersemangat!

Dan inilah yang terjadi: hasil yang biasa dan aroma rata-rata! Tak seperti bunyi tepuk tangan Oi Bura yang riuh dan ramai.

“Yah namanya juga pemanggang rumahan,” kataku ke diri sendiri.  “Ini pun patutlah disyukuri dan sudah lumayan.”

Begitulah aku menghibur diri. Rupanya mesin kecil dan pengalaman yang tak banyak, belum bisa diandalkan untuk bermimpi besar. Sadar diri mungkin kata yang patut disematkan. Aku masukkan biji kopi yang baru saja di panggang ke dalam wadah terbuka untuk didinginkan beberapa waktu. Setelahnya aku simpan ke dalam kantong aluminium foil. Cerita ini begitu datar ya.

***

Satu pekan sudah, usai hari memanggang kopi Oi Bura buah tangan dari sahabat itu. Hari berlalu seperti biasa. Ingin sekali rasanya menyeruput kopi enak yang bercitarasa special. Tapi itu tak ada hari ini. Oh iya, setidaknya aku masih bisa menyecap kopi, meski barangkali bukan kopi enak kelas atas. Aku masih punya kopi hasil panggangan ku bukan?

Aku buka lagi kantong penyimpanan kopi Oi Bura yang seminggu berlalu telah aku panggang. Hanya penasaran dengan rasanya. Kugiling dengan penggiling manual seadanya, kupanaskan kettle, dan kemudian kutuangkan air panas ke dalam cangkir kopi berisi gilingan kopi Oi Bura. Kusesap sekali,

“Lemon!”

Apa mungkin? Kucoba sekali lagi.

“Lemon! Tidak salah lagi!”

Lebih tiga kali aku membetul-betulkan lidahku, namun benar, ini terasa seperti lemon. Kopi Robusta yang dipanen dan diproses semi-wash ini terasa acidic seperti lemon segar. Sungguh sebuah rasa yang istimewa! Ini ajaib. Mesin kecil yang sempat aku remehkan dan biji kopi dari petani yang terjerat rentenir itu ternyata seolah membuat keajaiban!

Aku terdiam dan bersyukur, kopi Oi Bura yang dipanggang di mesin sederhana mampu mengalahkan kopi Robusta specialti! Kupandangi lagi kopi Oi Bura yang sudah diseduh. Teringat lagi tentang tepuk tangan Oi Bura diwaktu first crack waktu itu. Kini akulah yang bertepuk tangan.

 

Oleh Syam Indra Pratama

 

 

Home Roasting Guide
Juria, oh Kopi Juria!


Leave a Comment

0

Start typing and press Enter to search