Apakah design hanya tentang penampilan?

 In Seventh Edition

Sedang gregetan ingin mendirikan sebuah coffee shop? Memang, dengan meningkatnya minat masyarakat untuk ngopi, specialty maupun bukan, banyak pelaku bisnis jadi ikut tergoda untuk membuka coffee shop sendiri. Namun, modern ini, orang tidak hanya datang ke coffee shop untuk menikmati secangkir kopi. Apalagi di kota besar, fungsi coffee shop beralih menjadi tempat bekerja, meeting, wawancara pegawai baru, sampai bengong yang berkualitas. Menciptakan kedai kopi yang cozy tidak lagi cukup. Faktor-faktor interior pun akan menentukan bagaimana pelanggan menggunakan space tersebut, seperti pencahayaannya, seberapa bising kedai, servis, musik, tata letak—the list goes on.

Sebenernya apa sih formula design yang mendorong suksesnya sebuah kedai kopi? Dan apakah design hanyalah masalah penampilan?

Kami mewawancarai seorang arsitek yang juga owner dari SANA kopi di Kebayoran Baru, Jakarta, untuk membantu para pegiat kopi merumuskan bahan pemikiran dalam mendirikan usahanya:

Di manakah coffee shopmu berada?

Dalam ilmu arsitektur, konsep sebuah tempat seharusnya dibangun dengan mempertimbangkan lokasinya. Sebuah coffee shop mesti berkesinambungan dengan lokasinya dan terhubung secara apik dengan infrastruktur daerah, kompleks pemukiman (neighbourhood), komunitas yang ada, hingga kebiasaan komunitas tersebut. Misalnya, orang yang datang ke SANA dapat dengan mudah menggunakan MRT. Lokasi SANA pun terletak di sebuah pemukiman yang padat, sehingga bisa menjadi neighbourhood coffeeshop yang mengumpulkan berbagai komunitas di area tersebut.

Selain itu, Abi menjabarkan sebuah teori dalam urban design, yaitu place making, tentang bagaimana menciptakan sebuah tempat yang punya soul. “Sebagai contoh, di SANA tidak ada lahan parkir mobil tapi ada spot untuk parkir sepeda. Sisa lahan untuk parkir ini juga diubah jadi parking area untuk bertaman (park). SANA mencoba menghadirkan sesuatu yang susah ditemui di Jakarta: sebuah taman. Membuat orang yang lewat jadi punya kesan friendly saat melihat dan mau approach tempat ini karena terbuka dan menciptakan kesan I belong here,” papar Abi.

Bukan masalah cantik saja, namun masalah tujuan dari pilihan kamu. Apakah kamu ingin menciptakan tempat di mana orang dapat bekerja seharian? Pastikan lighting yang cukup, colokan di mana-mana, wi-fi yang kuat, serta tempat duduk yang nyaman. Sementara jika kamu ingin menciptakan suasana nyaman untuk nongkrong, pastikan tempat dudukmu memang mumpumi. Hal terkecil pun, ketika ia menjadi tepat guna, dapat memiliki dampak positif yang besar.

SANA sendiri bukan dibuat khusus untuk pengunjung solo, namun untuk mereka yang datang rame-rame. Dan ini nampak dari pemilihan tempat duduk dan kursi ibarat sebuah lounge—untuk bersanta-santai, berlama-lama.

Siapakah kamu? Bagaimana customer mengenalmu?

Design tidak melulu tentang penampilan. Saya langsung teringat beberapa coffee shop yang secara tempat tidak terlalu “wah” dari segi desain interior/eksterior. Ada Senemu 2.0 di Bandung, Coffeebeerian, Butfirst Coffee, dan Wisang Kopi di Jakarta yang dari sisi interiornya tidak terlalu andil banyak, tapi selalu ramai dan perputaran bisnisnya menarik.

Sebenarnya apa sih rahasianya? Dan ketika orang berbicara komunitas, apa sih maksudnya? Bagaimana bisa membuatnya berkembang secara organic?

Menurut Abi, “Salah satunya ya adanya orang yang stand by dan menghidupkan tempat itu.” Karakter barista atau host yang menjalani keseharian di coffee shop bisa menghidupkan atau mematikan suasana coffee shop tersebut. Sebagai customer, pasti kita bisa merasakan suasana yang ‘nyaman’ begitu menginjakkan kaki di sebuah coffee shop—bahkan sebelum menyicip kopinya. Sayangnya, sebagai pebisnis, seringkali kita begitu kaku untuk menghire barista yang sekedar jago brewing atau ganteng atau tatonya banyak (hehe), dan melupakan bahwa barista pun adalah tuan rumah.

Sudah terlihat biasanya coffee shop yang berhasil itu yang pemiliknya terjun langung. Abi pun menuturkan bahwa sampai sekarang, dia masih menyempatkan ngebar di tengah padatnya jadwal sebagai arsitek, ayah, dan pebisnis.

“Tapi memang nggak gampang karena nggak ada rumusnya. Harus muncul dari hati,” ungkapnya sambil tertawa.

Sudah terlihat biasanya coffee shop yang berhasil itu yang pemiliknya terjun langung. Abi pun menuturkan bahwa sampai sekarang, dia masih menyempatkan ngebar di tengah padatnya jadwal sebagai arsitek, ayah, dan pebisnis.

 

Kenapa orang mesti datang ke coffee shopmu?

Positioning si coffee shop di dalam market dapat dianalogikan seperti duluan telur atau ayam. Artinya, market positioning kita pun terbentuk dari animonya—faktor yang di luar kontrol kita.

Abi memaparkan, ”Bagus itu kan relatif. Nah, justru karena itulah bukan berarti yang budgetnya kecil engga bisa bersaing dengan budget besar. Apalagi, biasanya artisan brand modalnya ngga gede. Kalau udah ada soul nya, sebuah desain proyeksi kedai kopi akan sulit untuk dicopy. Desain bisa ditiru tapi nyawa dari tempat tersebut sulit diinternalisasi ke tempat dan market lain.

“Trend ke depan banyak orang akan mencari tempat yang punya karakter, di antaranya ada hubungan antara founder (owner) dan pelangannya erat, atau yang punya soul akan dicari.”

Tidak perlu mencari seseorang berijazah perhotelan atau F&B, namun yang penting ia senang menjamu orang dengan tulus. Seorang bartender sendiri pada umumnya akan mengakui bahwa sebagian besar pekerjaannya adalah mendengarkan celoteh para konsumennya (sambil bikin minum, nerima duit, balikin kembalian, etc!).

Baik hanya coffee to-go atau coffee bar, pelayanan semacam inilah yang membuat pengalaman semakin mengesankan. Komunitas pun akan berkembang secara organik selayaknya persahabatan yang menguat.

Kalau udah ada soul nya, sebuah desain proyeksi kedai kopi akan sulit untuk dicopy. Desain bisa ditiru tapi nyawa dari tempat tersebut sulit diinternalisasi ke tempat dan market lain.

Gimana ke depannya?

Oke, sekarang kita ngomongin modal. Ada passion, talent, history yang sebenernya bisa jadi lebih diperlukan daripada uang. Memang modal besar jelas memberikan ruang yang leluasa untuk bereksperimen, tapi bagaimana bagi dengan mereka yang tidak memiliki modal banyak?

Dalam bisnis kedai kopi, sudah ada contoh pemain dengan modal besar tetapi tidak bertahan. Malah, banyak bertebaran sekarang kedai kopi “modal dengkul” yang justru terus menggerakan roda bisnis.

Yang membedakan antara dua kasus tadi adalah kemauan untuk terjun ke lapangan. Pemilik kedai kopi yang secara aktif terjun langsung, selain menciptakan komunitas yang erat di kedai juga akan terus belajar. Biasanya, sang owner mempelajari secara langsung bagaimana cara menjamu pelanggan, menu apa yang akan dikembangkan berdasarkan observasi langsung, dan strategi marketing apa yang hendak dilancarkan dari apa yang dianalisa ketika dia terjun langsung.

Ada banyak cara pula owner menanamkan modal tidak terlihat tersebut. Seperti terjun langsung mengolah kopi, mencari kopi terbaik, sampai bereksperimen dengan menu yang akan dibuat. Kita tinggal di negara penanam kopi. Jadi kita mesti memanfaatkan kelebihan ini.

 

Nah, sekarang sudah jelas bahwa design tidak melulu tentang penampilan. Soul suatu tempat akan terasa ketika si empunya, selayaknya seorang designer dan seniman, menjiwai proses berkreasinya. Semua hal tersebut sejatinya adalah modal paling besar dan krusial yang tidak bisa digantikan oleh uang.

Subak Abian: Ibadah di Ladang Kopi


Leave a Comment

0