Menceritakan Desa Pedawa Melalui Kopi

 In Sixth Edition

SUMMARY: What does an isolated coffee region in Bali need to do to promote its products? Located in a village surrounded by mountains and lakes, Desa Bali Pedawa is dubbed Bali’s oldest village. A popular tourist activity in the area includes a trip visiting the isolated island by boat to witness their burial ceremonies. Other than that, these villages—altogether called Bali Asli—are hours away from the closest tourist spots. As coffee is becoming a more seductive commodity, Bali Pedawa is making the most out of this trend to bring economy to the region. With its strong storytelling aspect, Bali Pedawa’s coffee is indeed infused with exhilarating mysticism.   

Gencarnya dunia e-commerce membuat setiap orang ingin merambah dunia ini. Hal tersebut lantaran e-commerce memberikan lebih banyak kesempatan untuk dikenal banyak orang serta memudahkan sebuah produk menjangkau sebanyak-banyaknya konsumen. Berdasarkan data yang dikutip dari iPrice pada Triwulan IV Tahun 2018 jumlah pengunjung salah satu e-commerce Indonesia mencapai angka 167 juta pengunjung. Selain itu, selama kurun waktu 4 tahun terakhir, e-commerce di Indonesia mengalami peningkatan hingga 500 persen. Riset terbaru Google dan termasuk dalam laporan e-Conomy SEA 2018 menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia tahun ini mencapai US$27 miliar atau sekitar Rp391 triliun. Angka tersebut menjadikan transaksi ekonomi digital Indonesia berada di peringkat pertama untuk kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi sebesar 49 persen. Data sensus Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebut, industri e-commerce Indonesia dalam 10 tahun terakhir meningkat hingga 17 persen dengan total jumlah usaha e-commerce mencapai 26,2 juta unit.

Beragam latar belakang dan tujuan banyak orang menggunakan e-commerce. Mulai dari kemudahan dikenal oleh pasar di pulau seberang, transaksi jual-beli yang lebih ringkas, juga kesempatan bercerita tentang produk tersebut yang lebih banyak. Hal tersebut dibenarkan oleh seorang pengusaha desa Pedawa, Ketut Sudiarta, yang meneruskan usaha orang tuanya untuk memproduksi Kopi Moola Pedawa. Ketut Sudiarta pun menjelaskan bahwa memaksimalkan berbagai platform berjualan online sangatlah penting di zaman sekarang. Melalui e-commerce juga orang luar bisa mengenal dan tahu tentang kopi Pedawa itu sendiri.

Hanya saja bagi Ketut Sudiarta sendiri, usahanya belum menjamah dunia e-commerce hingga saat ini. “Rencana untuk menjamah dunia e-commerce ada. Hanya saja masih terkendala SDM yang mengurus ya disamping juga perlu dana untuk melakukannya. Tapi rencana ini memang sudah ada sejak dulu tapi pelan-pelan kami masih susun. Ini juga menjadi tantangan bagi kami karena kopi Moola Pedawa sendiri masih dalam kapasitas kecil,” jelasnya.

Dengan skala bisnisnya, juga letak desa tersebut yang jauh dari hinggar bingar dunia turisme Bali, memperkenalkan kopi Moola Pedawa secara online tetap bukanlah hal yang mudah. Namun Ketut Sudiarta sendiri berharap bahwa ia tidak hanya dapat menjual kopinya, namun juga memperkenalkan keunikan desanya ke masyarakat luar dan menaruh kopi dalam lanskap budaya yang lebih luas.

Dunia online yang selalu didorong oleh storytelling dan peran e-commerce sendiri yang banyak membantu usaha-usaha kecil menengah tetap dirasa Ketut Sudiarta sesuai dengan misi usaha ini yang dimulai orangtuanya semenjak tahun 1975. Melalui kopi Moola Pedawa ini, ia ingin desa Bali Aga atau yang diketahui sebagai Desa Asli Bali semakin dikenal melalui kopi.

Pedawa sendiri adalah salah satu desa yang terletak di kabupaten Buleleng, Bali. Dekat dengan Kintamani, daerah yang sudah terkenal dengan kopinya, kabupaten Buleleng juga merupakan salah satu penghasil kopi yang memiliki aroma dan cita rasa yang khas. Sejumlah dataran tinggi penghasil kopi itu salah satunya adalah Desa Pedawa. Kopi Moola Pedawa adalah salah satu usaha kopi yang ditekuni oleh Ketut Sudiarta. Kopi ini dikerjakan dengan pengolahan tradisional dan telah dimulai sejak 1975. Kopi Moola Pedawa diproduksi dengan sistem roasting masih menggunakan bara api kayu bakar. Kayu bakar yang digunakan juga bukan sembarang kayu melainkan menggunakan kayu kopi sehingga aroma kopi yang diproduksi menjadi lebih terasa. Ia menuturkan kopinya masih menggunakan cara-cara tradisional untuk memperoleh rasa kopi yang benar-benar nikmat disamping juga mempertahankan konsistensi rasa yang telah dibangun sejak dulu.

Melalui kopi, Ketut Sudiarta sendiri berupaya untuk memperkenalkan potensi desa Pedawa. Sebagai salah satu gugusan desa tua Bali Aga di Buleleng, daerah yang terpencil dikelilingi pegunungan dan danau ini adalah daerah yang dipercaya dihuni oleh warga asli Bali. Desa Pedawa sudah seharusnya menjadi salah satu tujuan wisata budaya, apalagi jika ingin mengetahui laku dan budaya Bali asli yang masih dilanjutkan hingga saat ini. Dengan adanya produksi Kopi Moola Pedawa, Sudiarta berharap kopi bisa menjadi ikon desa Pedawa yang mampu menarik minat wisatawan lokal maupun internasional untuk berkunjung.

Pic balitoursclub.net

Usaha yang telah dirintis sejak tahun 1975 pun terus dikembangkan oleh Ketut Sudiarta sesuai perkembangan pasar, salah satunya dengan melakukan inovasi dari segi pengemasan produk. Menurutnya, untuk dapat diterima di pasaran, produk apapun itu harus memiliki kemasan yang menarik dan apik. “Seenak apapun nilai rasa dari suatu produk jika pengemasannya kurang menarik akan mempengaruhi marketnya,” jelas pria kelahiran 1972 tersebut.

 

Cemilan sirih. Suguhan sederhana di sebuah rumah di desa Bali Aga. Foto oleh Putu Juli.

Sembari menyiapkan berbagai hal dalam menghadapi gencarnya dunia e-commerce, pihaknya memasarkan produknya di Kubu Hobbit (Rumah Hobbit), rumah mungil kreasi Ketut Sudiarta juga yang awalnya dibangun untuk memperindah tempat penampungan air bersih. Berlokasi di desa Pedawa, di sinilah Kopi Moola Pedawa bisa ditemukan. Beragam wisatawan datang ke rumah-rumah kecil menyerupai rumah Hobbit ini mulai dari wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara.

Pic penginapan.net

Selain kopinya yang khas, Kopi Moola Pedawa jika diminum di sini juga menggunakan teknik yang dilakukan masyarakat Pedawa kebanyakan, yakni menggigit gula merah terlebih dahulu sebelum meminum kopinya. Selain ditemukan di desa Pedawa, kopi Moola juga bisa ditemukan di beberapa kedai kopi kecil di Denpasar, hal ini terjadi karena penyebarannya yang dari mulut ke mulut.

Jadi itulah kisah kopi dari desa yang belum terkenal dengan kopinya

Pic Dodik Cahyendra

Perlahan-lahan, baik dengan atau tanpa dukungan online, Kopi Moola Pedawa pastilah akan menarik hati peminat kopi dari Indonesia ataupun dunia. Malah, mungkin Kopi Moola Pedawa tidak perlu menyibukkan diri dengan dunia online karena ia sendiri berasal dari daerah yang sudah memiliki cerita yang amat kaya.

 

 

 

 

 

Oleh Putu Juli

 

Pulang: Melihat Kopi Malino Dari Kejauhan
Es Kopi Susu: Powered by Apps


Leave a Comment

0