Ngopi di Tempat yang Semestinya

 In Origin

BACHTIAR DJANAN

SUMMARY IN ENGLISH

At Gembongsari, a coffee village in Banyuwangi, coffee is enjoyed right at the coffee farm. However, this statement wasn’t true just few years ago. Even with 1,750 hectare of coffee farm, farmers often preferred to sell green beans in much cheaper prices. A local community organization called HIDORA began educating farmers on the financial and cultural value of coffee so that farmers can gain better control over prices.

Education includes workshops and discussions to reevaluate Gombengsari’s potentials in the coffee industry. Coffee tours to the plantations were organized, where farmers and local villagers could showcase their traditional brewing skills. In 2016, coffee and culture festival was held and received enormous national, regional, and international media attention.

Geliat Kampong Kopi di Lereng Kawah Ijen

Ngopi di tempat yang semestinya. Sebuah tagline yang kian populer di kabupaten paling timur Pulau Jawa, yaitu Banyuwangi. Jika biasanya aktivitas ngopi dilakukan di kafe, kedai kopi, ataupun warung kopi, di Banyuwangi “ngopi di tempat yang semestinya” adalah, tak lain tak bukan, di kebun kopi.

Kampong Kopi Gombengsari (demikianlah penyebu-tan kekinian bagi kelurahan yang berada di lereng Gunung Ijen sebelah tenggara ini) berada pada ketinggian 400-700 meter di atas permukaan laut dan didominasi oleh kebun kopi yang ditanam oleh masyarakat setempat

Ironisnya, walaupun terdapat lebih dari 1.750 hektar lahan kebun kopi, warga Gombengsari sejak dulu tidak terbiasa memproduksi kopi bubuk, selain untuk konsumsi pribadi. Kopi seringkali dijual dalam bentuk green beans kepada tengkulak dengan sistem ijon (tradisional) dan dihargai Rp 16,000 – Rp 17,000 per kilo.

Pada bulan November 2015, kami dari HIDORA(Hiduplah Indonesia Raya), sebuah komunitas yang melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat di desa dan kampung, mulai melakukan sosialisasi door-to-door, diskusi sambil ngopi, dan menyelenggarakan workshop informal, dengan tujuan mengkaji ulang potensi kampung Gombengsari dan mengembangkan sisi wisata desa.

Dalam proses awal ini, kami sharing tentang pandangan kami dan berusaha membuat warga desa percaya diri, bahwa desa dan aktivitas keseharian mereka sebetulnya sangat menarik bagi wisatawan. Pada saat itu, yang penting adalah membuat rute 8Tim Hidora bersama tamu acaraperjalanan dan alur kegiatan yang menarik untuk tamu, serta memperhatikan lebih mengenai kebersihan dan kerapian, agar tamu merasa lebih nyaman


Hasil dari beberapa kali sharing, diskusi, dan workshopkecil-kecilan itu adalah sebuah skenario tur sederhana menjelajah kebun kopi, dari memperkenalkan tanaman kopi ciri khas Gombengsari, menunjukkan proses roastingsecara tradisional dengan tungku kayu bakar dan wajah gerabah, mendinginkan kopi hasil sangrai, menumbuk, menyaring, sampai menyeduh kopi dan menikmatinya.

The journey of a cup of coffee,demikianlah tema wisata kopi di kampung ini, sebuah perjalanan untuk menikmati indahnya suasana kebun kopi sambil menikmati secangkir kopi panas ditemani jajanan khas desa. Tak heran, keintiman suasana ini pun banyak menarik perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Dirasa tak cukup, setahun kemudian warga berinisiatif memperkenalkan potensi kampungnya secara lebih luas melalui Festival Kampong Kopi Lerek Gombengsari (Festival Kopilego).

Selain tentang kopi, Festival ini melibatkan lebih dari 50 orang seniman dari 7 negara serta dari 8 kota dan kabupaten di Indonesia yang hadir secara sukarela. Sebaliknya, warga pun bergotong-royong membuat panggung, menyediakan konsumsi, sampai menyiapkan rumah-rumahnya sebagai tempat menginap bagi para seniman pengisi acara.

“Meledaklah” acara Festival Kopilego. Mulai dari bazaar UMKM warga, fam trip wisata kopi dan peternakan kambing, workshop proses kopi untuk para petani, acara seni musik dan tari, sampai memunculkan kembali tradisi sepak bola api khas Gombengsari yang sudah mati suri; berbagai aktivitas tersebut diselenggarakan untuk meramaikan Festival Kopi ini. Karena acaranya yang unik, maka Festival Kopilego pun mendapatkan peliputan maksimal dari berbagai media lokal, regional, sampai nasional, membuatnya viral dan semakin dikenal luas.

Dari situlah, anak-anak muda desa makin merasa bangga dengan potensi-potensi yang ada di desanya. Kami share aneka tips dan trik untuk mendorong serta menyemangati mereka agar giat mendoku-mentasikan dengan foto, video pendek, dan cerita-cerita mengenai kampung mereka dan segala potensinya, untuk disebarkan melalui sosial media, sekaligus belajar menjual produk kopi secara online.

Dari awal yang sederhana dengan tur perkebunan kopi hingga Festival Kopilego itu sendiri, dari penjajakan hingga perencanaan, melatih SDM hingga menentukan standar service, manajemen hingga promosi, semua kami lakukan bersama masyarakat secara swadaya dan mandiri, tanpa keterlibatan pemerintah.

Di samping pendapatan lebih dari wisata kopi, warga pun akhirnya belajar berdiri di kaki sendiri, baik dari segi organisasi maupun finansial.

Maka dari itu tidaklah mustahil desa-desa kopi lainnya di Indonesia dapat mengembangkan potensinya secara mandiri.

Pasca Festival Kopilego, kelurahan Gombengsari yang dulunya tidak banyak dikenal, bahkan oleh warga Banyuwangi sendiri, kini telah go internasional. Brand Kampong Kopi Gombengsari menjadi sebuah iconwisata desa di Banyuwangi yang sukses dan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan warga. Sebagian anak-anak muda yang tadinya merantau pun mulai tertarik pulang kampung untuk berbisnis kopi atau bisnis-bisnis lainnya yang terkait dengan pariwisata.

Gombengsari terus bergeliat, seiring dengan “proses perjalanan” warga kampung yang telah menemukan.

kembali jati diri dan identitasnya. Kini mereka bangga menjadi warga Kampong Kopi Gombengsari, sebuah kampung di lereng tenggara Gunung Ijen, Kabupaten Banyuwangi.

Sebuah Warning
Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya sampaikan sebuah warning bagi para penikmat kopi di seluruh pelosok nusantara dan di segala penjuru dunia: jangan pernah mengaku-ngaku sebagai penikmat kopi sejati kalau belum pernah ngopi di kebun kopi. Itu saja.

Woi… Udah pada ngopi belum…?Diem diem bae, ngopi apa ngopi… Ngopilah di tempat yang semestinya…Ngopi di kebun kopi….

BACHTIAR DJANAN adalah salah satu pendiri HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya), sebuah komunitas yang melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat di desa dan kampung. Saat ini komunitas HIDORA tengah melakukan program pendampingan masyarakat di desa-desa di Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Tegal.

Foto oleh penulis

Pasca Gempa, Kelompok Perempuan Bangkit dengan Kopi


Leave a Comment

0

Start typing and press Enter to search