Belajar Nyeduh Kopi di Rumah Tahanan

 In Profile

Read in English

Ilustrasi Ben @komikkopi

Tahun 2017, saya bertemu dengan Pak Riyanto dari Kerabat Ngopi untuk pertama kalinya dan mendengar idenya tentang membawa kopi ke rutan (rumah tahanan). Kala itu saya hanyalah menjadi pendengar yang baik.

Pembawaan Pak Riyanto tenang dan kalem, berbanding terbalik dengan idenya yang lantang. Tidak mencari popularitas, Pak Riyanto percaya betul bahwa siapapun berhak untuk masa depan yang lebih baik, meskipun mereka telah melakukan kesalahan yang dianggap fatal. Warga binaan rutan adalah salah satu golongan yang masa depannya “terampas”, namun Pak Riyanto ingin mengajak kita untuk memikirkan ulang pandangan ini. Pandangannya yang kuat inilah yang membuat pertemuan kami membekas di ingatan hingga saat ini.

Dengan tenang, Pak Riyanto bercerita,

“Perbuatan baik senantiasa akan menarik hal baik lainnya. Itu pula yang kami rasakan untuk acara yang akan kami helat ini. Awalnya kami cuma berniat untuk mengadakan acara berbagi kopi kepada warga binaan Rutan dengan sederhana. Begitu kami share niat tersebut kepada pihak Rutan dan kerabat lain, banyak sekali tanggapan positif yang masuk, dimana banyak bantuan yang datang dan komunitas lain yang akhirnya ikut serta.”

Itulah misi dari Kerabat Ngopi, sebuah komunitas kopi kecil asal Yogyakarta yang menjalankan ide Ngopi di Rutan.

Memperkenalkan dunia kopi ke rutan dan memberikan training kepada para tahanan bukanlah ide yang mudah untuk dijalankan. Selain masalah logistik dan konsep yang perlu matang, menjalin pertemanan dengan para tahanan berarti merubuhkan berbagai persepsi sosial yang ada. Dan itu bukanlah hal yang mudah.

Namun keyakinan Pak Riyanto sendirilah yang berhasil mendorong berbagai pihak untuk mau berkerja sama dalam mewujudkan Ngopi di Rutan.

Ngopi di Rutan pertama kali dijalankan pada tahun 2017 di Rutan Bantul dengan hasil yang berkelanjutan, di luar dugaan mereka. Seusai acara perdana tersebut, Kepala Rutan kemudian menyiapkan sebuah ruangan yang dapat dikelola selayak café oleh para tahanan. Pelatihan menyeduh kopi juga rutin dilangsungkan oleh Kerabat Ngopi di café ini.

Berkaca dari kesinambungan program ini, Pak Riyanto pun hendak mengadakan Ngopi di Rutan lagi pada tahun 2019. Program Ngopi di Rutan tersebar dari mulut ke mulut, mempertemukan Pak Riyanto dengan Pak Beni dari Kopi Tetangga. Kebetulan, tempat tinggal Pak Beni dekat dengan rutan, sehingga secara otomatis, komunikasi dengan pihak rutan pun terbangun dengan mudah. Ide Pak Riyanto pun tersampaikan dan feedback mereka dapat dengan jelas.

Melihat kesuksesan Ngopi di Rutan di Bantul dan bagaimana acara ini memiliki dampak positif yang berkelanjutan, Pak Riyanto pun mendapat lampu hijau dari Pak Akbar, Kepala Rutan Wonosobo. Program ini mereka share baik secara online maupun melalui media cetak dan tanggapan positif pun mengalir apik. Bantuan datang dari berbagai warung kopi, bahkan dari para petani dan prosesor kopi di Wonosobo dan Temanggung.

Lalu pertanyaanya: mengapa memilih Kopi?

“Karena budaya ngopi di Indonesia dikenal mampu mewujudkan interaksi sosial nan guyub atau lebih terbuka dan akrab untuk bertukar pikiran serta informasi,” ujar Pak Riyanto. “Namun, alasan terkuat diadakannya acara berbagi kopi ini adalah kesempatan membuka interaksi antara warga masyarakat pada umumnya dengan warga binaan didalam rutan.

“Terbukanya jalur tersebut diharapkan mampu mematahkan stigma bahwa semua warga binaan merupakan orang jahat, karena nyatanya tidak semuanya seperti itu. Banyak sekali aspek yang akhirnya menjerumuskan seseorang masuk dalam tahanan, alasan paling sering adalah keterdesakan kebutuhan hidup dan tekanan emosional yang memicu kekerasan. Status warga binaan merupakan bentuk pertanggungjawaban masing-masing individu atas apa yang telah mereka perbuat sebelumnya, pada umumnya menjadi kesempatan mereka untuk introspeksi diri.

“Dan dalam kesempatan inilah sisi baik di dalam diri mereka mendorong masing-masing untuk melakukan perbaikan diri.

“Nah, berlandaskan kepercayaan akan sisi baik itulah harapan-harapan baik muncul. Saat ini, dukungan moral sangat diperlukan, bentuk dukungan yang paling diharapkan adalah berupa akses dan peluang bagi para warga binaan untuk berkreasi dan mengembangkan diri”.

Saat ini, dukungan moral sangat diperlukan, bentuk dukungan yang paling diharapkan adalah berupa akses dan peluang bagi para warga binaan untuk berkreasi dan mengembangkan diri.

Ngopi di Rutan Wonosobo berhasil dilaksanakan pada 25 September 2019 yang lalu. Berlangsung dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang, acara dibuka dengan sambutan dari pihak Rutan Wonosobo dan Kerabat Ngopi, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan serta pengarahan tentang susunan dan prosedur pelaksanaan acara hari itu.

Tiga puluh relawan dibagi ke empat stand yang tersedia: stand Kopi Tubruk, stand Kopi Filter, dan dua stand Espresso – Latte Art. Masyarakat binaan diberi kesempatan untuk memilih stand yang hendak mereka hampiri, kemudian diberi nomor antrian. Di setiap stand, para relawan kemudian akan memperagakan alat seduh mereka dan menyajikan minumannya secara gratis kepada para binaan. Mereka dapat bertanya tentang hal apapun terkait proses penyeduhan yang berlangsung di stand tersebut.

Dihadiri oleh kurang lebih 120 orang masyarakat binaan, interaksi yang terjadi menunjukkan ketertarikan yang cukup tinggi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pun mencerminkan rasa penasaran masyarakat binaan yang besar. Tidak hanya tentang rasa kopi atau jenis kopi, berbagai pertanyaan teknis turut disuarakan, seperti fungsi kertas fiter, dan bagaimana proses dari susu biasa menjadi latte art.

Menambah warna dan menjadikan acara ini lebih santai dan akrab, selingan hiburan diisi oleh Beatbox Wonosobo, Stand Up Comedy Wonosobo, Band SMAN 1 Wonosobo, dan Pantomim dari Sanggar Bagascara.

Di salah satu dinding dalam rutan ini juga tertulis slogan Rutan Wonosobo, slogan yang ikut mencerminkan visi dari Ngopi di Rutan: KEMARIN AKU MELANGGAR HUKUM. HARI INI AKU BELAJAR AGAR AKU ESOK DAPAT IKUT MEMBANGUN.

Peran serta semua pihak pada event ini diharapkan mampu menjadi penyemangat bagi masyarakat binaan untuk tetap optimis menjalani kehidupan setelah masa hukuman mereka berakhir. Bisa saja mereka menjadi seorang penyeduh kopi, atau memiliki usaha sendiri yang pasti akan meramaikan dunia perkopian Indonesia atau mungkin di kancah internasional.

Serupa dengan Rutan di Bantul, semoga Rutan di Wonosobo kelak memiliki keberlangsungan yang mendidik, terutama sebagai wadah pelatihan kerja bagi masyarakat binaan, sehingga stigma tentang tidak adanya masa depan bagi mereka dapat terpatahkan.

Oleh Petto dan Ben
Foto oleh Kerabat Ngopi

Apakah design hanya tentang penampilan?
Profil: Otten Coffee


Leave a Comment

0

Start typing and press Enter to search