Sampah Kedai Kopi… Dikemanain?

 In Coffee Conversations

Dalam dua tahun terakhir, pasti kita sering banget mendengar tentang trend eco living, baik di ranah industri maupun kehidupan pribadi. Kopi pun ikut menjadi sektor industri yang merasakan desakan untuk mendukung terciptanya konsep bisnis ramah lingkungan. Jadilah sedotan plastik ditukar dengan sedotan stainless atau bamboo, atau diskon untuk pembeli yang membawa tumbler sendiri. Apakah ini hanya trend sesaat? Bagaimana bisnis FnB dengan perputaran bahan baku yang cepat bisa mengurangi limbah industri mereka?

Menjalankan bisnis yang ‘hijau’ memang perlu direncanakan secara matang agar keberlangsungan prosesnya tidak tergerus pergantian trend. Ribet, jengkel, dan berbelit adalah tantangan harian yang pasti dihadapi bila benar-benar mau nyemplung serius dalam menjalankan konsep ‘hijau’. Terlebih lagi, di Indonesia kesadaran akan perilaku ramah lingkungan ini masih belum merata ke seluruh lapisan masyarakat. Fasilitas untuk mengelola limbah pun belum secanggih dan terintegratif seperti negara maju lain yang sudah lebih dulu bergerak.

Salah satu pelaku industri yang mengupayakan less waste dalam operasional bisnisnya adalah Carissa Odilia atau Sasa, Head Roaster dari Sumbu Roastery dan juga owner Sekutu Group.

Ketika ditanya apa yang mendasari Sasa mengupayakan agar bisnisnya bisa lebih ramah lingkungan, Sasa menjawab bahwa hal ini berangkat dari pengalaman pribadinya yang merasa bersalah ketika melihat betapa banyak jumlah sampah karton susu dari setiap penjualan kedai,  “Nggak bisa aja gue melihat sampah sebanyak itu keluar dari hasil toko gue. Merasa bersalah aja apalagi ketika gue tau masih banyak banget sampah plastik yang jadi polusi di laut.” Dalam sehari, ada 10 sampah karton susu menumpuk di dapurnya, itu pun ketika hari sepi.

Berdasarkan penuturan Sasa, sampah karton susunya masih sulit untuk didaur ulang karena masih memiliki lapisan foil aluminium di dalamnya. Lapisan aluminium foil tersebut berguna agar cairan susu tidak kontak langsung dengan dus kemasan dan menjaga faktor higienis serta mempertahankan keawetan produk susu. Lapisan inilah yang akan sulit terdegradasi di alam tetapi juga tidak bisa dihilangkan demi produk itu sendiri. Pun mengakali dengan teknik 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dirasa masih belum ketemu formula yang pas karena karton susu termasuk jenis sampah yang memiliki volume cukup besar dan distribusi sampahnya lebih banyak keluar daripada hasil yang dikelola dalam proses 3R.

Bayangkan mengolah 1 karton susu menjadi prakarya sedangkan setiap hari bisa memproduksi 10 sampah karton di saat yang bersamaan. Pemakaian ulang dan pengurangan juga tidak bisa dilakukan karena bagaimanapun juga operasional toko harus terus berjalan, menghasilkan profit. Namun, bisa saja someone else’s junk is another’s treasure. Untungnya, Sasa menemukan seseorang yang mau mengolah sampah karton susunya untuk dijadikan karya seni, sehingga sebagian dari sampah karton susunya pun sekarang bisa tersalurkan dengan baik.

Beda karton susu, beda pula penanganan ampas kopi. Meski volume yang keluar setiap hari sama banyaknya, mengakali ampas kopi dirasa lebih mudah. “Untuk puck espresso biasanya kita kasih gratis ke petani yang punya sawah dan kebun deket dari sini sebagai pupuk. Ada juga yang suka minta sampah ampas kopi kita untuk dijadiin scrub gitu. Tapi untuk kita pribadi mengolah secara mandiri ampasnya belum sampai kesitu,” jelasnya.

Untuk puck espresso biasanya kita kasih gratis ke petani yang punya sawah dan kebun deket dari sini sebagai pupuk.

Dalam beberapa waktu terakhir, scrub dari ampas kopi tengah melejit sebagai salah satu inovasi pengolahan limbah FnB.

Menurut Sasa, ampas kopi memang bisa digunakan dalam kosmetika tetapi perlu teknik khusus agar bisa menjadi produk yang sesuai standar. Bagaimana mengeringkan si ampas, mensterilkan dan sebagainya. Rangkaian proses yang rumit itu butuh ahli bukan hanya sekedar “home made” product apabila hendak dikomersilkan. Jadi untuk sementara, Sasa masih membagi ampas kopi secara gratis dengan kuantitas terbanyak menjadi pupuk alami.

Tapi seberapa jauhkah sebuah kedai kopi rumahan mesti ikut nyemplung berbisnis sampingan mengolah limbah dapurnya? Anggaplah 1-2 jenis limbah sudah berhasil dialihkan fungsinya, seperti ampas kopi yang dijadikan pupuk. Namun, bagaimana dengan jenis limbah lainnya?

Tantangan terbesar pebisnis FnB zaman sekarang adalah menemukan tempat penampungan sampah yang memang berbisnis daur ulang. Banyak kecamatan memang memiliki fasilitas berupa Bank Sampah, namun tidak semuanya mendaur ulang sampah dengan baik dan secara maksimal. Akhirnya, sampah pun menumpuk juga. Sasa sendiri merasa bahwa mencari pos penerimaan sampah di Solo juga masih cukup sulit. Lain di Jakarta yang punya banyak tempat deposit sampah baik itu milik pemerintah atau organisasi sosial. Sasa merasa perlunya ada integrasi antara pemerintah dan unit pengolahan limbah regional agar masyarakat tau kemana mereka bisa mendeposit sampah mereka lebih baik lagi.

Ujung-ujungnya, konsep ramah lingkungan sejatinya bukan hanyalah aspek bisnis semata, namun gaya hidup. Kamikatsu, sebuah kota kecil di Jepang, mendeklarasikan Zero Waste Movement awal tahun 2003 karena pencemaran lingkungan parah yang membuat rusaknya ekosistem di sana. Pemerintah daerah bergerak cepat dan mengesahkan regulasi untuk mengelola sampah dan limbah masyarakat lebih baik.

Dalam kasus Kamikatsu, bukan hanya peran warga atau sekumpulan kolektif terpisah yang menggalakan program ini, tetapi juga pemerintah yang secara aktif mengajak masyarakat menjalankan program. Tidak main-main, sampah pun dibagi menjadi 45 kategori yang bisa didaur ulang, bahkan setiap warga dituntut untuk memilahnya. Bayangkan betapa memakan waktu dan tenaga pekerjaan memilah sampah tersebut. Namun karena keterlibatan masyarakat yang besar, zero waste movement tersebut masih dijalankan secara masif.

Memang bicara realita, akan sulit bagi setiap bisnis untuk sepenuhnya menjalankan bisnis yang ramah lingkungan. Problem lingkungan sangatlah kompleks, ketika muncul satu solusi belum tentu solusi tersebut tidak memberikan dampak baru baik itu negatif atau positif. (Bahkan plastik, sebuah inovasi dari Alexander Parkes, awalnya digunakan untuk mengurangi pembalakan liar akibat penggunaan kertas dan kayu, dengan tujuan untuk pemakaian berulang kali, bukan sekali pakai).

Memang bicara realita, akan sulit bagi setiap bisnis untuk sepenuhnya menjalankan bisnis yang ramah lingkungan. Problem lingkungan sangatlah kompleks, ketika muncul satu solusi belum tentu solusi tersebut tidak memberikan dampak baru baik itu negatif atau positif.

Semua kembali lagi ke perilaku konsumsi manusia. Ketika manusia menjadi sangat konsumtif, solusi pengelolaan limbah tidak akan benar-benar selesai. Akan terus ada sampah yang diproduksi setiap harinya, dan dalam bisnis, mengelola sampah yang sekian banyak tidak akan selesai kalau hanya mengandalkan 3R.

Itulah mengapa perlunya peran aktif pemerintah dalam membentuk jejaring pengelolaan limbah sehingga bisnis, individu, sampai kolektif yang mengupayakan sustainable living ini tidak hanya menjadi narasi semalam. Upaya menjadikan bisnis ramah lingkungan bukan berarti tidak layak untuk dicoba. Yang awalnya ikut-ikutan trend, kemudian jadi kebiasaan, lalu jadi gaya hidup yang bisa menginspirasi banyak orang.

Oleh Heynyoo

The Rise of Signature Beverage
The Curse of Es Kopi Susu


Leave a Comment

0

Start typing and press Enter to search