Wae Rebo: Tarik Ulur Pariwisata dan Kopi

 In Seventh Edition

“Pada bulan Maret 2014, dua petani dari Wae Rebo berkunjung ke Klasik Beans Garut,” Pak Eko bercerita. “Pada saat itu, tantangan terbesar Waerebo adalah kebun kopi yang sudah tak terawat karena desanya sudah menjadi desa wisata. Ketua adatnya pun khawatir dengan budaya kopi Wae Rebo yang hanya sebatas menjadi etalase untuk wisatawan, bukan untuk budidaya pertanian.”

Kedua petani dari Waerebo tersebut kemudian menginap di Garut dan belajar berbagai hal tentang kopi, dari cara berkebun, macam-macam processing, dan teknik cupping bersama tim Klasik Beans.

Tersembunyi jauh di dalam pegunungan dan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 3.5 jam, Wae Rebo adalah desa warisan leluhur di tanah Flores dengan tujuh rumah kerucut bernama mbaru niang yang selalu memikat hati wisatawan.

Wae Rebo. Credit: flickr

Ada tujuh larangan utama yang wajib warga Wae Rebo lindungi, yang semuanya masih terjaga dengan baik selama 19 generasi. Namun, pariwisata yang kian marak satu dekade terakhir mulai melunturkan kebiasaan adat dalam keseharian mereka.

“Kami lihat pariwisata yang masif sudah merusak kegiatan sehari-hari mereka. Contohnya, sekarang mereka harus mempersiapkan telur dadar setiap pagi dan membawa beras dari combo untuk membuat nasi para tamu,” cerita Pak Eko.

“Pada akhirnya para turis memperlakukan warga sebagai petugas room service saja. Bukannya datang dengan minat untuk belajar budaya, namun hanya datang untuk satu malam, numpang tidur, dan besoknya foto-foto kemudian turun gunung. Untuk apa yaa wisata kalau hanya untuk pindah tempat tidur?” Pak Eko berkomentar.

Pariwisata memang seringkali, secara ironis, mampu merusak citra dan kebiasaan adat lokal itu sendiri. Dan di kasus Wae Rebo, budaya berkebun kopi lah yang terkena imbasnya.

Pak Eko pun menawarkan diri untuk mengirim tim pengajar ke Wae Rebo untuk menjadi pendamping mereka.

Kepada kedua petani dari Wae Rebo tersebut Pak Eko berkata, “Bapak berdua pulang saja dulu ke kampung Bapak, kemudian bicarakan secara adat. Kami akan kirimkan satu orang, dengan syarat pertama titip makanannya dan kedua, titip tempat istirahatnya. Selebihnya, kami Klasik Beans yang tanggung.

“Waktu itu, pikiran sederhana kami adalah, semua anak-anak di Klasik Beans, kalau dikirim jauh dari rumah, siapa yang akan menjadi keluarganya sehari-hari? Kalau kami titip makan dan tempat istirahatnya, artinya tim kami akan menjadi bagian dari keluarga Wae Rebo. Ini sangat penting. Dari awal yang baik dan tertib, hasilnya akan baik dan maksimal.”

Foto: Twitter @ekopurnomowidi

Kalau kami titip makan dan tempat istirahatnya, artinya tim kami akan menjadi bagian dari keluarga Wae Rebo. Ini sangat penting. Dari awal yang baik dan tertib, hasilnya akan baik dan maksimal.

Perkenalan yang penuh rasa hormat ini jugalah yang diterapkan oleh warga Wae Rebo ketika mereka menyambut anggota Klasik Beans, Andi, ke tanah leluhur mereka.

“Ketika Andi datang, dia upacarai tuo tenun dulu. Andi ikut budaya lokal, belajar makanan lokal, bahasa lokal, bermain dengan anak-anak Wae Rebo,” cerita Pak Eko. “Untuk para tamu dan tim yang ke sana, saya mengingatkan mereka untuk tidak membawa botol minum kemasan, atau memberi permen atau makanan kemasan ke anak-anak kecil. Mungkin maksudnya baik, namun menginfiltrasi budaya. Untuk makanan juga sebaiknya tidak meminta menu.”

Meskipun Pak Eko bersama tim Klasik Beans adalah salah satu pelopor specialty coffee di Indonesia, bagi mereka, memodernkan cara-cara mengelola kopi tidak berarti meniadakan tradisi dan kebiasaan lokal yang menopang kehidupan warga. Niat Pak Eko sedari awal untuk Wae Rebo memang bukan untuk ‘merubah’ atau ‘mengedukasi’ mereka sama sekali.

Warga Wae Rebo sudah mengenal kopi sejak lama. Disebut ‘kopi raja’ dan dipercayai datang dari Sulawesi (menurut Pak Eko, mungkin dari Toraja), sekarang ini ada sekitar 200 hektar tanah diperuntukan untuk berkebun kopi dan masing-masing keluarga memiliki kebun sekitar 1.5 hektar yang tersebar di segala penjuru. Selain dikonsumsi sehari-hari, kopi mereka jual ke pasar Dintor dalam bentuk green beans. Kehidupan dengan kopi berjalan penuh harmoni sebelum pariwisata datang. Bahkan ketika berkebun, mereka menghindari pestisida karena dianggap merusak tanah leluhur. Jadi di mata Pak Eko dan tim, yang juga berprinsip kuat untuk menjaga keasrian alam, mereka hanya perlu sedikit merestart apa yang sempat terlantar.

Setelah kebunnya mulai terawat, pada tahun 2015, Andi bergotong-royong bersama warga Wae Rebo untuk membuat penjemuran kopi (greenhouse).

Pak Eko melanjutkan ceritanya, “Di situ kami belajar, bahwa ilmu kayu orang sana mumpuni. Hari pertama, Andi dan beberapa warga menentukan lokasi dan membuat sket sederhana. Hari kedua, tidak ada satu orang pun yang muncul ke lokasi greenhouse. Hari ketiga, penduduk berkumpul dan masing-masing membawa bambu yang sudah jadi. Kemudian semuanya dipasang, langsung jadi greenhouse—ukurannya presisi. Greenhouse tercepat selama pengalaman kami buat di mana-mana. Akhirnya, di tahun itu kami membangun delapan greenhouse.”

Seperti tarik tambang, dilema berkebun kopi dan menjaga ekonomi pariwisata terus saling talik-ulur. Keduanya sama-sama memakan waktu, energi, dan perhatian. Di desa yang mungil ini, baik dunia kopi dan dunia pariwisata kadang bertabrakan.

Pak Eko sendiri paham betul dengan dilema ini, sehingga meskipun beliau datang sebagai coffee expert, ia juga memberi masukan yang dapat dijalankan secara apik dengan budaya dan realita ekonomi pariwisata yang sudah terjadi. “Oleh karenanya, kami membawa tamu-tamu yang berbeda, yang menginap 2-3 malam, yang menanam pohon-pohon endemik, dan mau belajar budaya setempat,” lanjut Pak Eko, “tujuan akhirnya sederhana: mengajak warga untuk berpikir ulang manfaat turis satu malam. Beberapa dari mereka sudah mulai berpikir untuk menaikkan tarif menjadi mahal agar yang datang lebih sedikit namun lebih berkualitas.”

Sebagai pegiat kopi pun, terkadang kita juga perlu bertamu ke desa-desa kopi di berbagai pelosok Indonesia untuk menyaksikan budaya berkebun kopi mereka atau yang lebih jauh lagi, sebagai awal bekerjasama dengan mereka untuk memperkaya dunia specialty Indonesia.

Untuk para pegiat kopi yang hendak berkelana ke desa-desa kopi, Pak Eko membagi pesan, “Apabila kita datang dengan semua muatan di kepala yang belum tentu cocok di lokasi, maka kita akan terintimidasi. Namun apabila kita datang dengan tulus untuk menambah keluarga atau kerabat, niscaya kita menemukan banyak sekali ilmu di warga lokal, yang tidak ada di kepala kita dan aplikasinya akan lebih mudah. Karena, ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi, sastra sudah terlalu lama di abaikan oleh negeri ini, padahal di situ kekuatan kita yang mempersatukan kita sebagai bangsa.”

Karena, ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi, sastra sudah terlalu lama di abaikan oleh negeri ini, padahal di situ kekuatan kita yang mempersatukan kita sebagai bangsa.

The Curse of Es Kopi Susu
La Brûlerie: Galeri Apresiasi Kopi dan Rempah


Leave a Comment

0